Arsip:

Opini Fisipol

Kalender Sultan Agungan

Manusia selalu mendefinisikan dirinya melalui waktu. Karena itu, setiap peradaban besar selalu memiliki hitungan waktunya sendiri. Hitungan waktu dibagi berdasarkan dua prinsip utama yaitu berputarnya bulan dan berputarnya matahari. Dari hitungan tersebut, dibuatlah kalender.

Kalender nasional yang kita pakai saat ini misalnya, merupakan Kalender Gregorian yang diperkenalkan Paus Gregory XII tahun 1582 setelah mengoreksi kalender Julian. Kalender berdasarkan bulan ditemukan jejaknya pertama kali ditemukan di coretan gua di Lascaux, Perancis yang dibuat sekitar 15.000 tahun lalu. Hitungan bulan secara tradisional digunakan di mayoritas negara di Asia termasuk, China, India, Jepang, Korea, Thailand dan lainnya. read more

[Opini] Kabinet Presidensial

Istilah kabinet berasal dari bahasa Perancis, “cabinet” yang artinya sekelompok ahli yang bekerja sebagai penasihat yang membantu untuk kepentingan raja.

Pertama kali negara yang mempergunakan istilah ini adalah Perancis sekitar abad ke-17, untuk menamakan kelompok kerjanya ini sebagai cabinet. Di kelak kemudian hari, di dalam sistem ketatanegaraan modern, disebut para menteri. Setelah Perancis kemudian diikuti Inggris sekitar abad ke-18. Ketika itu Perancis dan Inggris dipimpin monarki absolut. Raja sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan kerajaan memegang kekuasaan yang tidak terbatas.

Ketika bentuk pemerintahan kerajaan absolut, sekelompok para ahli tersebut bekerja, dibentuk, dan ditentukan sebagai penasihat dan pembantu oleh raja. Inisiatif keberadaan kelompok ahli itu dari raja. Raja berkeinginan punya kelompok ahli yang bisa membantunya, raja yang memilih orangnya, raja yang menentukan kewajiban dan beban tugasnya, dan raja yang meminta kelompok kerjanya bertanggung jawab kepadanya. read more

[Analisis] Tak Mudah Bikin Pasar

Pertama kita harus belajar dari masa lalu. Dulu di Jalan Solo, tepatnya di timur Quality Hotel sebelah barat Sheraton, ada satu tempat namanya LIK, kepanjangan dari Lingkungan Industri Kecil. Pemerintah menyediakan lahan untuk para pengrajin untuk berkiprah di sana.

Sudah puluhan tahun berkiprah di sana dan akhirnya gagal dan akhirnya diambil alih oleh bermacam-macam pihak dan digunakan untuk hal lain. Dari contoh itu sebenarnya harus memahami aspek-aspek bisnis kecil, usaha kecil, pengrajin.

Sifat dari pengrajin itu tidak fulltime, biasanya mereka sambil nyambi. Jadi masalah jika mereka ditempatka di tempat jauh dari rumah. Opportunity cost-nya macam-macam, tranpor serta meninggalkan pekerjaan rumah. Itu bikin kacau balau. read more

[Opini] Dimensi Sosial Perlindungan Anak

Peristiwa kekerasan beruntun terhadap anak yang terjadi di berbagai daerah tentu menjadi keprihatinan kita. Pemerkosaan, pembunuhan dan berbagai perilaku bengis pada anak menjadi gejala, yang bukan saja kriminalitas biasa, tetapi dapat disebut tragedi kemanusiaan. Beragam teror, intimidasi, atau perilaku destruktif yang dialami menegaskan betapa penghargaan terhadap anak-anak kian memudar.

Dari perkembangan pemberitaan peristiwa tersebut, nampaknya makin menguat tuntutan publik untuk memberlakukan hukuman seberat-beratnya. Mulai kebiri sampai pada hukuman mati. Mereka memandang maraknya kekerasan anak selama ini berbanding lurus dengan ketidaktersediaan hukuman berat. Disitulah, terbitnya Perpu yang menegaskan hukuman berat menjadi sinyal dan penanda penting, sekalipun di dalamnya juga masih menyimpan kontrovesi terutama soal hukuman kebiri. read more

[Opini] Pengenalan Lingkungan Sekolah

Hari pertama siswa baru masuk sekolah biasanya dihinggapi perasaan senang, bangga, cemas, ketika sampai halaman sekolah dengan lingkungan asing dan berbeda dibanding sekolah lama. Tidak semua siswa mudah membaur dan cepat beradaptasi dengan lingkungan baru, sehingga perlu masa untuk pengenalan. Minggu pertama masuk sekolah adalah masa yang paling tepat untuk mengisi kegiatan pengenalan lingkungan sekolah (PLS). Disini ada peran kepala sekolah, guru, OSIS, yang bersinergi untuk menyambut siswa baru dengan penuh keakraban, hangat, toleransi, melindungi, membantu, supaya adik-adik kelas merasa tidak sendiri di sekolah yang diidamkan. read more

[Analisis] Komodifikasi Lebaran

     Nuansa perayaan Idul Fitri masih terasa. Ritual yang telah melewati lintas batas agama dan etnis ini menjadi budaya Indonesia yang sangat khas. Budaya yang masih erat dengan fenomena unik: mudik, uang baru dan pakaian baru.

     Fenomena mudik di Indonesia dapat disejajarkan dengan tradisi-tradisi sosial yang berkembang di masyarakat modern. Misalnya di Amerika Serikat, setiap hari Kamis keempat pada bulan November orang merayakan Hari Bersyukur Nasional yang dinamakan Thanksgiving’s Day. Tradisi yang juga dilaksanakan di antaranya di Brasil (merayakan hari yang sama dengan Amerika), Kanada (Senin, kedua Oktober), Jepang, Korea Selatan, Liberia dan Swiss. read more

[OPINI] Kemudahan Usaha

Berbagai gebrakan dalam rangka mendorong pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) banyak dilakukan Pemerintahan Jokowi-JK. Gebrakan ini banyak dilakukan untuk membantu kemudahan akses permodalan maupun kemudahan usaha. Dalam konteks permodalan, di Bulan Maret ini Bank Indonesia kembali menurunkan BI Rate dari 7% menjadi 6,75%. Jika dikalkulasi sejak Januari, BI Rate tercatat telah diturunkan tiga kali dan setara dengan 0,75%. Selain BI Rate, belum lama ini pemerintah juga melakukan reformasi layanan pendaftaran nama usaha secara online dan juga reformasi kepengurusan Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP) di pelayanan terpadu satu pintu. Reformasi kemudahan usaha diperkuat dengan keluarnya Permendag No. 14/M/Dag/Per/3/2016 tentang Perubahan Atas Permendag No. 77/M/Dag/Per/12/2003 mengenai Surat Izin Usaha Perdagangan dan Tanda Daftar Perusahaan. Bulan April pemerintah juga menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).  read more

[OPINI] Terorisme dan Perang Pasca Modern

Serangan teroris di Paris, Perancis, beberapa waktu lalu dan yang baru saja terjadi di Brussel, Belgia, serta upaya-upaya memeranginya dalam beberapa tahun terakhir mencerminkan beberapa perubahan penting dalam domain perang kontemporer. Salah satu perubahan itu adalah berakhirnya monopoli negara atas kekerasan ketika apa saja bisa digunakan sebagai senjata pemusnah massal oleh siapa saja.

Simbol-simbol kemajuan masyarakat sipil di bidang-bidang seperti teknologi komunikasi dan rekayasa genetik yang selama ini menjadi indikator kesejahteraan kehidupan damai dalam sekejap bisa diubah menjadi instrumen perang. Bukan hal yang mengejutkan jika seorang “fanatik” dengan pengetahuan yang memadai dan kecakapan teknis yang canggih, yang bisa diperoleh dengan gampang di internet, mengembangkan wabah penyakit baru yang dikemas dalam bentuk bom atom mini dan digunakan untuk mengancam penduduk tertentu. read more

“Ma-lima, Ndara?”

Kagetkah anda ketika seorang bupati ditangkap sedang dalam keadaan teler karena narkoba? Jika iya, ada dua kemungkinan. Pertama, anda punya standar moral yang tinggi, sehingga menurut Anda seorang pimpinan politik tak boleh terlibat ma-lima. Lima dosa besar ini pantang dilakukan oleh orang baik: main (judi), madon (main perempuan/selingkuh), maling (korupsi), madhat (narkoba), dan mabuk-mabukan. Pimpinan politik yang maling sudah sering kita dengar kabarnya. Yang madon juga tak sedikit. Kini ada yang madhat tertangkap basah. read more

Oposisi Tanpa Visi

Ditulis oleh Prof Dr Sunyoto Usman

Guru Besar Fisipol UGM

Baru genap setahun Pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla (Jokowi-Jk), publik dikejutkan manuver politik PAN yang kini berbalik arah dari partai oposisi menjadi partai pendukung pemerintah. Bahkan kamudian bertebaran gossip jika terjadi perombakan kabinet, PAN memperoleh jatah kursi menteri. Gossip tersebut sempat menyulut geram sejumlah elite partai-partai pendukung Jokowi-JK karena dinilai menikmati kursi menteri tanpa berkeringat.

Manuver politik serupa juga dilakukan PKS. Sejumlah tokoh PKS bertandang ke Istana bertemu Presiden Jokowi. Agak berbeda dengan PAN, PKS menyatakan tetap akan berada di luar  pemerintahan. PKS lebih memilih menempatkan diri menjadi partai oposisi loyal. Maksudnya kira-kira akan loyal (setia) terhadap kebijakan Presiden Jokowi sepanjang mendatangkan manfaat, dan bersikap kritis manakala  terjadi penyimpangan. Oposisi loyal sebenarnya dulu pernah diadopsi olej PPP pada jaman Orde Baru, meskipun sukar diwujudkan. Ketika itu partai politik tidak berdaya menghadapi pemerintah Orde Baru yang amat otoriter dan menutup rapat ruang-ruang kritis. read more