Arsip:

Dari Fisipol

Pura dan Wakil Gubernur

Ditulis oleh Bayu Dardias, MA, MPP

Dosen JPP Fisipol UGM

 

Dibandingkan dengan 33 provinsi lain di Indonesia, sepertinya posisi Wakil Gubernur DIY akan terus menjadi posisi cukup krusial dan tidak hanya menjadi ‘ban serep’. Sejak UUK disahkan, posisinya ditegaskan secara legal formal terintegrasi dengan struktur politik tradisional Pakualaman. Keterikatan antara pemerintahan modern dan tradisional ini menempatkan posisi Gubernur dan Wakil Gubernur DIY tidak mudah diintervensi oleh pemerintah pusat. Namun juga menuai ancaman terkait konflik internal. read more

Ekspresi Kebencian dan Ruang Informasi

Ditulis oleh Bambang Arianto

Direktur Riset Bulaksumur Empat, Mahasiswa S2 JPP Fisipol UGM

Munculnya surat edaran (SE) terkaut ekspresi kebencian (hate speech) dari Kepolisian Republik Indonesia menjadi pengingat publik, terutama para pengguna internet (netizen). Tentu untuk ekstra berhati-hati dalam menyampaikan pendapat di ruang informasi, khususnya di jejaring media sosial. Dalam surat edaran yang ditandatangi oleh Kepala Polri  Jendral  (Pol) Badrodin Haiti pada 8 Oktober 2015, jejaring media sosial menjadi salah satu sarana yang dipantau terkait penyebaran ujaran dan ekspresi kebencian. read more

Membangun Sinergi Sosial di Sekitar Bandara (Tanggapan atas Tulisan R. Langgeng Raharjo)

ditulis oleh Hari Santosa

Alumnus Ilmu pemerintahan Fisipol UGM

Tulisan R Langgeng Raharjo tentang ‘PR Setelah Pembangunan Bandara’ (KR, 17/11/15) sangat menarik untuk dicermati. Namun pendekatan pembangunan fisik dan potensi budaya yang diangkat dalam tulisan tersebut kurang lengkap. Mengingat yang paling terdampak dari pembangunan bandara baru tersebut adalah masyrakat yang lokasinya terletak di sekitar bandara.

Perdebatan tentang pembangunan bandara baru di Kabupaten Kulonprogo selama ini menunjukkan tarik ulur waktu yang relatif lama. Hal ini wajar. Karena sebuah pembangunan apapun dan dimanapun, mesti menimbulkan pro dan kontra terutama dari masyarakat sekitar yang terkena dampak langsung dari pembangunan tersebut (Melkote;1991). read more

Semangat Kepahlawanan dan Voluntarisme

Ditulis oleh Bambang Arianto

Direktur Riset Bulaksumur Empat, Mahasiswa S2 JPP Fisipol UGM

Peringatan Hari Pahlawan menjadi bukti otentik bahwa pada 10 November 1945 arek-arek  Surabaya  berjuang mempertahankan republik ini dari ancaman Tentara Belanda yang didukung Tentara Inggris. Peristiwa itu dapat menjadi bukti otentik bagi kita untuk kembali membangkitkan rasa nasionalisme dan pengorbanan bagi kepentingan bangsa. 

Dalam peristiwa tersebut tokoh sentral yang memimpin pertempuran adalah Bung Tomo yang mampu menarik atensi para sukarelawan dan rakyat Indonesia untuk rela berkorban mempertahankan kemerdekaan. Menariknya hingga saat ini semangat berkorban dan kepedulian seperti fenomena voluntarisme (sukarelawan) masih tetap bercokol dalam nalar publik. Meski semangat kepedulian dan voluntarisme saat ini hanya diminati oleh kalangan kelas menengah.  read more

Merajut Kebersamaan di Kantin Fisipol UGM

Sambil makan bakso, segerombolan mahasiswa-mahasiswi asyik bercanda di salah satu meja kantin Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UGM siang itu. Di meja lainnya, sejumlah mahasiswa sibuk memainkan gadget sambil menyedot minuman es teh. “Saya senang makan di Kantin Fisipol ini, karena pelayanannya baik, harganya lebih murah, ramai dan suasananya menyenangkan,” jelas Aminah, mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya UGM, pekan lalu di kantin Fisipol UGM.

Mita, mahasiswi Fisipol UGM, menambahkan, ia sering makan di kantin itu karena pilihan makanannya beragam suasananya ramai dan kebersihannya terjaga. “Karena saya mahasiswa Fisipol UGM, ya sering sekali saya ke sini, ” ungkap mita. read more

Sentimen Antiparlemen

Penulis adalah Tenaga Pengajar Jurusan Politik dan Pemerintahan

Fisipol UGM 

Lagi-lagi DPR membuat kontroversi. Aksinya saat memimpin rapat paripurna di Gedung Parlemen Jumat pekan kemarin, para Pimpinan DPR menggunakan masker. Menurut mereka, aksi ini merupakan bentuk empati terhadap ribuan korban kabut asap di Sumatera dan Kalimantan.

Aksi ini kemudian menghasilkan reaksi beragam, tidak saja di kalangan anggota dPR sendiri, tapi juga di masyarakat. Sebagian besar mengkritik aksi tersebut. Bermacam vonis dilontarkan seperti politisasi asap, respon DPR yang lamban , dan dagelan politik yang tidak lucu. Muara dari semua kritik tersebut bahwa politisi kita gagal memberi solusi, shingga mereka ikut berkontribusi terhadap terjadinya tragedi kemanusiaan tersebut. read more

Dr Hempri Suyatna : Memperjuangkan Ekonomi Kerakyatan

Banyak cara yang bisa dilakuan untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober.  Jika dulu Sumpah Pemuda digunakan untuk melawan imperialisme dan kolonialisme, maka refleksi sumpah pemuda masa kini bisa diterapkan untuk melawan neo-imperialisme dan neo-kolonialisme yang menjelma dalam berbagai bentuk, baik hukum, politik maupun ekonomi.

Di bidang ekonomi, perjuangan bangsa ini dalam mengentaskan kemiskinan masih terasa sangat berat.  Melemahnya nilai tukar rupiah, terjadinya PHK masal, serta meningkatnya angka pengangguran dan melonjaknya harga -harga kebutuhan pokok, membuat rakyat kecil menjerit. Terlebih usaha-usaha kecil masyarakat berupa toko kelontong semakin terancam dengan hadirnya minimarket-minimarket yang kian menjamur. Hal itulah yang memanggul nurani Dr Hempri Suyatna untuk melakukan advokasi pembelaan terhadap rakyat kecil.  read more

Reorientasi Program KUR

Ditulis oleh Dr Hempri Suyatna

Ketua Prodi S2 Jurusan PSdK

Paket Kebijakan Ekonomi Jilid IV diluncurkan pemerintah minggu lalu. Salah satu focus Paket Kebijakan Ekonomi tersebut terkait perluasan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Setelah dalam kebijakan sebelumnya bunga KUR direncanakan diturunkan dari 22% menjadi 12% pertahun. Dengan Paket Kebijakan Ekonomi Jilid IV ini skema pembiayaan KUR juga akan diperluas khususnya bagi pekerja yang terkena pemutusan  hubungan kerja (PHK) dan pemberian modal kerja untuk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). KUR juga diperluas peruntukannya untuk calon tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri dan anggota keluarga dari buruh yang memiliki penghasilan tetap dan usaha produktif. read more

Ayo, Berburu Makanan ‘Nyentrik’ di Bazaar Kuliner Ngasem

Keluarga Mahasiswa Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (Kapstra) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada mengadakan bazaar kuliner#2 Nemukarta ‘Witing Tresno Jalaran Saka Kulier’ Sabtu (31/10/2015) mendatang di Plasa Pasar Ngasem. Kegiatan yang digagas Kementerian Kewirausahaan Kapstra 2015 menampilkan puluhan stan makanan ‘nyentrik’ dan relatif baru ini bertujuan memperkenalkan dan melestarikan budaya jawa, terutama Yogyakarta.

Ketua Panitia Nadia Kaulika menjelaskan panitia menyediakan 46 stan yang sebagian besar berisi stan makanan dan minuman. Ditambah stan busana dan tas termasuk memberi kesempatan bagi warga sekitar di Plasa Pasar Ngasem untuk mengikuti bazaar. Panitia juga mengadakan donor darah, pentas musik, lomba makan, lomba foto booth dan foto ‘selfie’ dengan hadiah menarik bagi para pemenang. Selain itu, aneka hiburan sepanjang acara guna menarik perhatian masyarakat. read more

Anak dalam ‘Sick Society’

Ditulis Oleh Desintha D. Ariani, MA

Sosiolog UGM, saat ini tengah menempuh S3 di Ewha Womans Universitas Seoul

Masih lekat dalam ingatan, bagaimana kasus Engeline menjadi duka bersama. jejak kematian yang begitu menyakitkan seolah menunjukkan betapa rapuhnya generasi kita. Benar bahwa kasus Engeline ini berangsur-angsur menemui titik terang tentang pelaku di balik kematiannya. Namun sepertinya anak-anak tetap belum sepenuhnya bebas dari resiko penganiayaan, penculikan bahkan pembunuhan brutal yang begitu dekat dan bisa terjadi kapan saja. Sebut saja kasus pembunuhan Eneng atau penganiayaan ayah tiri terhadap seorang bocah GA yang terjadi beberapa hari terakhir ini. Kedua kasus tersebut tidak jauh berbeda sebenarnya dengan kasus Engeline.  read more