Thursday, 10 August 2017
Abdullah Faqih, Mahasiswa Sosiologi UGM Menjuarai ASEAN Literary Festival 2017

Dalam rangka memeringati ulang tahun ASEAN ke-50, Ardhanary Institute dan Aliansi Jurnalis Independen menggelar ASEAN Literary Festival (ALF) 2017. Setelah sebelumnya digelar pada tahun 2014, ALF tahun ini digelar kembali dengan tema “Beyond Imagination”. Acara yang juga didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Luar Negeri, dan Asia Center Japan Foundation diselenggarakan sejak tanggal 3 s.d. 6 Agustus 2017 di Jakarta. Terdapat berbagai rangkaian acara selama penyelenggaran ALF 2017, diantaranya workshop, diskusi, publisher corner, communities corner, writer corner, ethnic music corner, dan lain-lain. Kehadiran penulis-penulis kenamaan dari seluruh negara ASEAN juga menambah semarak penyelanggaraan ALF 2017. Terhitung beberapa penulis ternama seperti Ahmad Fuadi, Alanda Kariza, Andrew Fowler, Arswendo Atmowiloto, Candra Malik, dan beberapa penulis lainnya turut hadir menyemarakan ASEAN Literary Festival 2017.

ASEAN Literary Festival 2017 juga menggelar kompetisi menulis esai tentang keberagaman gender dan seksualitas yang diikuti oleh wartawan, masyarakat umum, dan mahasiswa. Mahasiswa Departmen Sosiologi UGM, Abdullah Faqih, turut ambil andil dalam kompetisi menulis tingkat nasional tersebut. Ia terpilih sebagai juara kedua dalam kompetisi menulis ASEAN Literary Festival 2017. Dalam tulisannya, Faqih mengangkat tentang pesantren waria di Yogyakarta yang menurutnya semakin mengundang munculnya kajian atau diskursus tentang transivitas (waria) dengan perspektif heteronormatif sebagai kerangkanya. Ia mengatakan, pesantren waria seharusnya cukup dipandang sebagai tempat bagi para waria untuk memperdalam agama Islam tanpa perlu dibenturkan dengan berbagai macam dimensi. Faqih terinspirasi dengan fenomena Bissu di Sulawesi Selatan yang ditempatkan sebagai gender kelima dalam struktur sosial dan kultur masyarakat. Menurutnya, waria di Pesantren Al-Fattah seharusnya juga dipandang sebagai identitas gender tersendiri, diluar laki-laki dan perempuan.

Tulisan tersebut mengantarkannya menjadi juara kedua dari total 400 naskah yang terdaftar. Selain Faqih, pemenang lain dari kategori mahasiswa adalah Faisal Oddang dari Universitas Hassanudin, Makasar dan Lisbet Siahaan dari Universitas Katolik Santo Thomas, Medan. Menurut penuturan panitia, mayoritas topik yang diangkat oleh peserta lomba adalah topik tentang kaum Bissu, di kalangan adat masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan, dan Pesantren Waria Al Fattah di Yogyakarta. Terdapat sekitar 20% yang menulis tentang Bissu dan 15% yang menulis tentang pesantren Al Fallah. Sementara itu, dewan juri yang terlibat dalam kompetisi tersebut adalah Direktur ASEAN Literary Festival 2017, Okky Madasari, Sekjen AJI Indonesia, Arfi Bambani, Direktur Ardhanary Institute, Sri Agustine, dan Desk Editor BBC Indonesia, Ging Ginanjar.

Pengumuman dan pemberian penghargaan kepada para pemenang dilaksanakan pada malam penutupan ALF 2017 tanggal 6 Agustus 2017 di Kota Tua, Jakarta. Acara malam penutupan tersebut diisi oleh beberapa sastrawan dari Filipina dan Indonesia, pentas kesenian khas Betawi, dan pertunjukan music dari Institut Musik Jalanan, dan lain sebagainya. Acara bertambah semakin semarak dengan adanya penampilan dari JKT 48. 

Public Policy Management

DEPARTEMEN