Sunday, 10 September 2017
Akademisi Melawan Kegagapan Digital

Perkembangan teknologi dan media digital memberi banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Akan tetapi, kehadirannya juga membawa problema bagi masyarakat. Banyak orang yang percaya pada informasi hoaks, kemunculan cyberbullying, kasus pedofilia di media sosial, serta berbagai kasus ujaran kebencian adalah contohnya. Oleh karena itu, literasi digital harus menjadi perhatian bagi seluruh masyarakat.

Dalam rangka Hari Literasi Internasional 2017 yang bertemakan ‘Literasi dalam dunia digital”, Jaringan Pegiat Literasi Digital (JAPELIDI) membagikan hasil penelitian tentang gerakan literasi digital di Indonesia. Penelitian dilakukan di 9 kota, yaitu Yogyakarta, Salatiga, Semarang, Surakarta, Malang, Bandung, Banjarmasin, Bali, dan Jakarta. Sejak bulan April, JAPELIDI memetakan gerakan literasi digital yang telah ada di masyarakat beberapa tahun terakhir.

Konferensi nasional literasi digital hadir berkat kerjasama Jaringan Pegiat Literasi Digital, Program S2 Ilmu Komunikasi Fisipol UGM, Ilmu Komunikasi UNY dan Ikatan Pustakawan Indonesia. Dalam konferensi pers yang digelar di Legend Cafe telah hadir Wisnu Martha Adiputra dan Novi Kurnia yang merupakan staf pengajar Ilmu Komunikasi Fisipol UGM, Firly Annisa dan Dosen Ilmu Komunikasi FIS UNY yaitu Dyna Herlina S.

“JAPELIDI menemukan setidaknya 338 kegiatan literasi digital di 9 kota tersebut. Ini adalah angka yang luar biasa sebagai gerakan untuk membuat warga lebih melek media digital. Akan tetapi, para penggiat gerakan literasi digital tersebut masih didominasi oleh perguruan tinggi selain pemerintah daerah dan komunitas. Inisiatif-inisiatif dari warga masyarakat sendiri masih minim dibandingkan gerakan literasi dasar (membaca),” demikian keterangan Novi Kurnia, koordinator penelitian JAPELIDI yang juga Ketua Program Studi S2 Ilmu Komunikasi UGM.

Remaja atau pelajar, mahasiswa, masyarakat umum dan orang tua adalah target yang paling banyak disasar oleh gerakan-gerakan literasi digital. Anak muda dianggap penting sebagai target sasaran gerakan untuk bisa menjadi agen dalam gerakan literasi digital.

Ragam kegiatan yang dilakukan dalam gerakan literasi digital tersebut masih didominasi ceramah atau sosialisasi serta workshop dan pelatihan. Kegiatan ini masih menganggap bahwa pengguna media digital harus dilindungi dari pengaruh buruk media alih-alih pada pemanfaatan media sebagai bagian dari masyarakat digital. Namun, penelitian juga menemukan adanya inisiatif untuk memasukkan literasi media dan digital ke dalam kurikulum baku di perguruan tinggi, misalnya di Departemen Ilmu Komunikasi UGM, Prodi Ilmu Komunikasi UNY, Prodi Ilmu Komunikasi UNRIYO dan Fakultas Ilmu Komunikasi Unisba.  

Secara umum, gerakan literasi digital di Indonesia bersifat sukarela, tidak terstruktur, insidental, sporadis, dan tidak kontinu. Peran pemerintah dalam gerakan ini juga belum terlihat. Contoh yang cukup baik adalah inisiatif dari Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang telah melakukan pelatihan untuk siswa dan guru terkait media digital sebagaimana diungkapkan oleh Firly Annisa, dosen Ilmu Komunikasi UMY.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, JAPELIDI merekomendasikan bahwa literasi digital harus diberikan dalam level keluarga, sekolah, dan negara. Dyna Herlina, dosen Ilmu Komunikasi UNY menjelaskan bahwa, ”Pada level keluarga, orang tua harus menjadi contoh serta melibatkan anak sebagai partner dalam membuat kesepakatan-kesepakatan atas akses media digital. Pada level sekolah, harus ada perubahan ke arah pendidikan berbasis digital, yaitu murid dan guru adalah setara dan harus menguasai konten pembelajaran bersama. Selain itu, orang tua juga harus berkolaborasi dengan guru dalam pendidikan anak, serta penyediaan laboratorium media digital. Pada level pemerintah, harus didorong transformasi digital dengan membangun infrastruktur digital yang demokratis, memperkuat e-governance, serta memberdayakan warga negara sebagai bagian dari kewarganegaraan digital (digital citizenship)”.

Sebagai rangkaian dari konferensi pers ini, pada hari Selasa, 12 September 2017, akan diadakan konferensi nasional literasi digital di Ruang Ki Hadjar Dewantara, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta, pukul 08.00-17.00 dengan pembicara adalah Nukman Luthfie (pendiri literos.org), Dyna Herlina S. (Dosen Ilmu Komunikasi UNY), Drs. R. Kadarmanta Baskara A. (Kepala Dinas Pendidikan DIY) serta Tim Peneliti JAPELIDI.  

Tentang JAPELIDI

JAPELIDI adalah Jaringan Pegiat Literasi Digital yang saat ini beranggotakan 52 peneliti/akademisi dari 25 perguruan tinggi di 9 kota di Indonesia yang sebagian besar adalah berlatar belakang Ilmu Komunikasi. Para peneliti telah melakukan penelitian, pengabdian, dan publikasi tentang literasi digital.  JAPELIDI terbentuk pada bulan Januari 2017 dan memulai penelitian ini sejak bulan April 2017. Penelitian ini adalah langkah awal dari JAPELIDI untuk mengembangkan gerakan dan kajian literasi digital berskala nasional di Indonesia.

Public Policy Management

DEPARTEMEN