Thursday, 18 January 2018
Creative Hub Fisipol UGM: Mengubah Sekedar ‘Complaining’ Menjadi ‘Solving’

Dunia saat ini tengah menghadapi era disrupsi. Perubahan besar terjadi dalam berbagai lini, misal dengan berkembangnya artificial intellegence yang didukung oleh makin majunya teknologi komunikasi. Perubahan - perubahan ini, selain dapat memberikan keuntungan, juga dapat menjadi ancaman tersendiri. Hal ini kemudian menginduksi timbulnya ‘sense of crisis’ yang memunculkan berbagai ide untuk mengatasinya.

Urgensi dalam merespon tantangan ini kemudian mengantarkan Fisipol UGM untuk meluncurkan Creative Hub Fisipol UGM pada Rabu (17/1) di Digilib Cafe. “Fisipol UGM menginisiasi Creative Hub untuk merespon perubahan dunia, terutama tentang masalah profesi yang semakin beragam,” ujar Dr. Erwan Agus Purwanto, Dekan Fisipol UGM.

Creative Hub memiliki tujuan untuk mengembangkan generasi sosiopreneur kreatif yang menyelesaikan permasalahan sosial dengan menggunakan teknologi digital dalam cara-cara yang cepat dan tepat. Secara lebih luas, program ini didesain untuk membekali para sosiopreneur muda Indonesia dengan materi mengenai entrepreneurship, sociopreneurship, inovasi dan teknologi, serta materi pelengkap sesuai dengan kebutuhan project masing-masing peserta. Ide Creative Hub ini sendiri mendapat sambutan positif sekaligus apresiasi dari Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo, pada kunjungannya Desember 2017 lalu.

Dikatakan oleh Wawan Mas’udi, Wakil Dekan Fisipol UGM, bahwa program Creative Hub yang terdekat akan diselenggarakan pada Februari 2018, yaitu Sociopreneur Track. “Melalui track ini, diharapkan akan menstimulasi munculnya generasi yang akan menyelesaikan masalah sosial yang ada, sehingga tidak hanya berhenti pada ‘complaining’ saja tapi juga ‘solving’,” ungkap Wawan. Hal ini lantas diwujudkan dalam bentuk kegiatan berupa talent-pitching yang terbuka untuk mahasiswa semester akhir (baik Fisipol maupun umum), fresh graduate, hingga para peserta innovative competition. Lebih lanjut Wawan menjelaskan bahwa kurikulum talent pitching yang ada bersifat projektif berbasis masalah-permasalahan. “Sehingga penyelesaian masalah bisa dilakukan dengan model-model bisnis,” ujarnya.

Peserta kreatif yang mengikuti talent pitching sendiri akan mendapatkan berbagai manfaat dalam pelaksanaan kegiatan. Seperti mentoring, dukungan logistik, kesempatan berjejaring, hingga peluang untuk mendapatkan pembiayaan atau investasi. Kesempatan mendapatkan mentoring misalnya, peserta akan mendapatkan materi tentang inovasi produk langsung dari praktisi dan pelaku sosiopreneur, start up, pitch polishing, dan internship dalam start up unicorn industry. “Selain bisa belajar dari pengalaman kegagalan ataupun kesuksesan mereka, yang paling penting adalah kita ‘mempertemukan’ proses kreatif ini,” ungkap Wawan.

Creative Hub sendiri memiliki kurikulum yang mendukung tujuan sociopreneur. “Kurikulum kami memiliki basis project-based yang bertujuan untuk menghasilkan model inovatif penyelesaian masalah sosial sekaligus berpotensi menghasilkan business beneficiaries,” ungkap Matahari Farransahat, Managing Director Creative Hub Fisipol. Selain berbasis project-based, Creative Hub juga dirancang bersifat base on need, dimana substansi kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing ide desain sociopreneurship yang dikembangkan oleh para peserta Creative Hub.

Secara mendetail, terdapat lima blok kurikulum yaitu ‘how to be innovator?’, ‘skills needed as an innovative sociopreneurs’, ‘articulate ideas’, ‘build the sociopreneurship model or protoype’ dan ‘start the business’. Pelaksanaan Creative Hub sendiri akan berlangsung dalam metode mentorship, innovator’s talk and sharing, evidence-based, workshop, internship, dan reflective learning.

Pelaksanaan Creative Hub sendiri akan dimulai pada Januari 2018. Jangan sampai ketinggalan untuk menciptakan perubahan bersama!

ACARA HARI INI

ACARA MENDATANG