Monday, 18 September 2017
Fenomena Selebgram dari Sudut Pandang Praktisi dan Industri

Melihat peluang lebih akan kemungkinan kerja-kerja di sektor informal bidang ekonomi kreatif, Career Develoment Center (CDC) Fisipol UGM pada Kamis (7/9) mengadakan sesi sharing dan tanya jawab bertajuk “Fisipol Talk: How To be a Selebgram.”  Terpaan dari perkembangan teknologi juga sosial media sangat berpengaruh pada dinamika dalam lingkup profesi Social Media Influencer (SMI)ini. Peningkatan PDB (Produk Domestik Bruto) pada industri kreatif telah mengalami peningkatan cukup signifikan pada rentang tahun 2013 – 2015 yang di dalamnya bagaimana peran para Social Media Influencer juga memiliki porsi cukup berarti. Berangkat dari temuan ini, maka pembahasan tentang profesi Key Opinion Leader ini dirasa penting bagi  CDC Fisipol UGM untuk digelar.

Acara yang mengambil tempat di Gedung BE Ruang 11 Fisipol UGM ini menghadirkan dua pembicara dengan dua perspektif yang berbeda, yakni: Dinda Ayu Larasati (Social Media Influencer) dan Muhammad Hafidullah (Business Director PT. Rwe Bhinda). Laras yang merupakan mahasiswi Ilmu Komunikasi angkatan 2014 bercerita lebih mengenai bagaimana prosesnya hingga menuju titik di mana Social Media Influencer bisa dijadikannya sebagai profesinya kini, dari kiat-kiat teknis yang diambil sampai dengan tips dan trik menghidupi diri sebagai praktisi di dunia industri kreatif ini. Sedangkan menurut Hafid yang mengambil porsi pembicaraan melalui sudut pandang industri bisnis, siapapun bisa menjadi Social Media Influencer.

“Jika dilihat dari kacamata antropologi, setiap orang yang bisa mempengaruhi sejumlah orang lain itu punya potensi untuk menjadi influencer. Fenomena ini berawal ketika orang ingin menjadi selebriti sudah tidak perlu lagi harus masuk tv karena sekarang ada shifting media, cukup dengan punya konten yang unik dan spesifik,” tuturnya.

Meskipun menurut Hafid, opsi yang ditawarkan sementara di Indonesia cukup terbatas pada lingkup preferensi fotografer, traveler, fashion enthusiast, make up artist, dan kuliner, namun ini tidak menutup kemungkinan bagi siapapun untuk bisa melakoni profesi ini selama dia punya massa yang cukup besar dan bisa mempengaruhi opininya.

“Tidak ada rumus baku seseorang untuk bisa jadi selebgram, tapi paling tidak dari kajian teman-teman di bagian social media strategist, ada empat hal yang selalu menjadi concern, yakni: konsistensi dalam mengunggah konten, memahami preferensi audiens, konten yang menginspirasi dan memberi insight baru, dan menjadi jujur pada diri sendiri dalam arti tetap pada karakter yang telah lama dibangun,” ucap Hafid.

Dengan 42 audiens, acara berlangsung kurang lebih dua jam, pertanyaan yang diajukan selepas materi pun beragam. Salah satunya ialah mengenai takaran sukses di instagram: mengapa jumlah following lebih sedikit daripada jumlah follower? Apakah following memiliki value yang menjadi pertimbangan sebuah brand dalam memilih influencer?

Menurut Dinda, tidak semua yang memfollow dirinya lantas ia kenal sehingga dalam mengikuti akun instagram Dinda lebih selektif. Sedangkan menurut Hafid dari sudut pandang industri, brand tidak pernah melihat jumlah following dari social media influencer, justru yang industri perhatikan adalah jumlah followers karena angka tersebut berbicara tentang jumlah pasar yang dapat dijangkau melalui SMI. Atau apa jadinya jika Selena Gomez harus memfollow 5 juta pengikutnya? “Kembali lagi bahwa apapun platformnya, social media pada dasarnya digunakan untuk social networking,” pungkas Hafid.

ACARA HARI INI

ACARA MENDATANG

Public Policy Management

DEPARTEMEN