Friday, 01 December 2017
Fisipol Adakan Pelatihan Master of Ceremony Bagi Mahasiswanya

Sekretariat Fisipol bekerjasama dengan Career Development Center kembali menyelenggarakan agenda Soft Skill Mastering bagi civitas akademika Fisipol. Kali ini, tema yang diangkat adalah Training Master of Ceremony (MC). Kegiatan yang diselenggarakan pada Rabu-Kamis (29-30/11) ini mengundang Ninda Nindiani, MA sebagai trainer dari First Step Training & Consulting.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh Fisipol yang dirasa memiliki banyak MC potensial. Hal ini dapat dilihat dari berbagai kesempatan dimana para civitas menjadi MC di berbagai acara. Untuk mematangkan potensi tersebut, soft skill mastering ini diadakan.

Ninda Nindiani sendiri merupakan seorang MC profesional. Ia merupakan presenter talkshow “Dokter Kita” di Jogja TV sekaligus trainer pada bidang public speaking, personality development, public relations, dan business etiquette.

Pada hari pertama, Ninda lebih banyak memberikan teori dan pemahaman terkait seluk beluk MC. Menurutnya, salah satu hal utama yang dibutuhkan oleh MC adalah memiliki wawasan luas. “Wawasan yang luas bisa didapat salah satunya dari membaca, misalnya membaca koran. Bila tidak, maka suplai wawasan akan berkurang,” ujar Ninda. Melalui membaca pula, seorang MC dapat memiliki perbendaharaan kata yang lebih luas. Ninda juga menekankan, bahwa seorang MC harus memiliki sikap positif pada dirinya sendiri, orang lain, tugas, dan profesi.

Dalam acara resmi, Ninda mengatakan intonasi merupakan aspek penting dalam membawa acara. Intonasi MC diharapkan berwibawa dan mempunyai kesan memiliki otoritas. Selain itu, ketegasan dalam berbicara juga diperlukan. Dalam hal bahasa, yang digunakan adalah bahasa baku, singkat, jelas, dan informatif.

Sedangkan dalam acara non-formal atau acara santai, bahasa yang digunakan cenderung tidak kaku, komunikatif, spontan, dan ekspresif. MC juga dapat berbicara dengan lebih luwes dan santai pada penonton. Gerakan tubuh diperbolehkan untuk menyemarakkan suasana, asal tetap dalam koridor kesopanan.

Suara juga merupakan hal penting bagi seorang pembawa acara. “Pertama yang harus diperhatikan adalah artikulasi atau kejelasan pengucapan,” kata Ninda. Lebih lanjut, penyesuaian volume, nada atau intonasi, tempo, resonansi, tekanan, dan emosi pada suara juga tidak boleh luput.

Ninda juga memberikan beberapa koreksi terhadap kesalahan-kesalahan lumrah yang terjadi ketika menjadi pembawa acara. “Kurang tepat bila ‘waktu dan tempat dipersilakan’. Yang dipersilakan adalah subjek yang dipanggil,” ungkap Ninda. Hal lain, misalnya sapaan ‘Bapak’ atau ‘Ibu’ diikuti oleh nama subjek dan bukan jabatan.

Selain itu, Ninda juga memberikan berbagai tips saat membawakan sebuah acara. “Pembawa acara harus tenang ketika membawakan acara, bahkan ketika melakukan sebuah kesalahan,” ungkapnya. Lebih lanjut, Ninda menyarankan agar para pembawa acara memahami jenis acara, suasana acara, serta audiens yang akan dihadapi. Mempersiapkan cue cards juga dapat dilakukan untuk lebih menguasai acara. Terus berlatih hingga saat acara tiba juga dapat membantu dalam membawakan acara.

Sesi kedua yang dilaksanakan pada hari Kamis memiliki agenda latihan dari tiap-tiap peserta. Sehari sebelumnya, Ninda telah meminta para peserta untuk membuat draf MC yang akan langsung dipraktekkan.

Para peserta yang berasal dari berbagai angkatan dan departemen di Fisipol terlihat antusias menjalani sesi latihan ini. Sebelum diberikan evaluasi oleh Ninda, beliau memberikan kesempatan bagi peserta lain untuk memberikan masukan. Melalui sesi ini, diharapkan peserta dapat berkembang dan mengetahui kekurangan untuk dikembangkan diri masing-masing. (/fkm)

Public Policy Management

DEPARTEMEN