Wednesday, 20 September 2017
Indonesia dalam Pandangan Pramoedya Ananta Toer

Selasa (19/9) MAP-Corner Klub kembali menyelenggarakan kegiatan diskusi yang bertempat di Ruang Seminar Magister Administrasi Publik, Fisipol Unit 2, Sekip. Tema diskusi yang diangkat adalah “Pramoedya dan Jejak Langkah Indonesia Sebagai Bangsa”, dengan menghadirkan Max Lane (penulis buku dan peneliti dari Institute of Southest Asia Studies, Singapura) dan Soesilo Toer (adik Pramoedya Ananta Toer sekaligus Pengelola Perpustakaan PATABA). Dimoderatori oleh Arif Novianto dari Institute Governance and Public Affairs, masing-masing pembicara memberikan materi mengenai Indonesia dari sudut pandang Pramoedya. Diskusi ini menjadi menarik karena kedua pembicara berasal dari latar belakang yang berbeda, sehingga terdapat dua cerita yang berbeda pula.  

Soesilo sebagai pembicara pertama menjelaskan pandangan Pram yang tertulis dalam buku Bumi Manusia. Sebelum menuju inti pembahasan, Soesilo terlebih dahulu membagikan cerita mengenai sosok Pram dan hubungannya dengan Pram sebagai kakak beradik. Menurut Soesilo, Pram yang biasa ia panggil Mas Pram adalah seorang kakak yang suka mengkritik namun tidak mau dikritik, sekalipun oleh adiknya sendiri. Oleh karena itu, sebagai kakak pertama Pram sering menyuruh adik-adiknya untuk belajar menulis, namun tidak boleh memberikan kritik kepada dirinya. Sebagai saksi hidup Pram, Soesilo juga membagikan beberapa cerita yang pernah ia alami dengan kakaknya. Dengan gaya bicara yang santai dan mengalir, cerita-cerita Soesilo kerap kali mengundang gelak tawa dan tepuk tangan audiens.

Setelah membagikan cerita mengenai sosok Pram, Soesilo kemudian menceritakan pandangan Pram mengenai Indonesia. Ia menjelaskan bahwa dalam buku Bumi Manusia Pram tidak menggunakan kata Indonesia karena bagi Pram Indonesia merupakan kata impor yang dicetuskan orang asing. Oleh karena, itu Pram lebih suka menggunakan kata Nusantara. Menurut Soesilo, Pram ingin Indonesia menjadi sebuah negara sendiri, yang dibangun dengan berbagai bangsa dan bahasa yang ada. Namun Pram kalah suara dengan masyarakat Indonesia yang lain, sehingga mau tidak mau Pram harus mengikuti arus. Soesilo berpendapat bahwa cita-cita Pram merupakan sesuatu yang bersifat utopis. Artinya, ia hanya bisa berangan-angan saja tetapi  tidak bisa mewujudkannya. Sebagai pernyataan akhir, Soesilo menyatakan rasa kagumnya terhadap Pram. “Saya mengagumi Pram bukan sebagai pengarang atau penulis tapi sebagai kakak yang bersifat poligami”, tutur Soesilo.

Berbeda dengan Soesilo, Max Lane menyatakan bahwa ia tertarik dengan Pram bukan karena sosoknya, tetapi karena pemikirannya. Bahkan perannya sebagai aktivis politik, tidak terlepas dari Pramoedya sebagai guru yang mengajarkannya untuk kritis terhadap kondisi bangsa. Max memuji buku-buku Pramoedya yang sudah hampir cetak 30 kali di Amerika Serikat, dan menjadi bahan ajar guru untuk SMA. Selain itu, Max juga memuji pemikiran Pram yang berhasil mendidik dirinya sendiri dari manusia ingusan menjadi manusia yang penuh pengalaman. Dalam hal menulis, Max menilai bahwa Pramoedya telah berhasil menuliskan cerita dari sudut pandang Minke sehingga terbangun narasi dari dalam yang sesuai pada masanya yang membuat kesadaran hidup.

Terkait dengan Indonesia dalam pandangan Pram, Max Lane juga membahas mengenai kata Indonesia yang tidak ditemukan dalam buku-buku Pram. Menurut Max, hal tersebut terjadi karena ada pesan tersembunyi yang sangat penting secara ilmiah dan untuk kaum muda sekarang yang ingin Pram katakan.

“Jangan lupa yang namanya Indonesia diciptakan baru oleh rakyat Indonesia melalui pengalaman-pengalamannya yang kemudian ditafsirkan dan diperjuangkan. Sebelum ada perjuangan nasional maupun revolusi nasional Indonesia memang sudah diperjuangkan rakyat. Bukan merupakan lanjutan Jawa, bukan lanjutan batak, dan bukan juga lanjutan Majapahit,” tutur Max, menjelaskan pesan tersembunyi Pram.

Selain pandangan tersebut, Max juga menyebutkan bahwa ketika Pramoedya sebelum disumpah menjadi DPRD, ia mengatakan bahwa Indonesia bukanlah nama tempat untuk negeri ini, tetapi berarti pulau-pulau impian. Indonesia dibeli sendiri, sehingga Pram lebih suka menyebutnya sebagai Nusantara atau Divantara. Dalam pandangan Max, ia tidak terlalu mempermasalahkan nama, tetapi fakta bahwa dalam sejarah, Indonesia yang dulunya tidak ada menjadi ada karena diciptakan melalui perjuangan rakyat. Menurutnya, untuk menuju masa depan yang lebih baik, semua warisan perjuangan revolusi nasional yang diciptakan Indonesia harus bisa direbut kembali oleh generasi muda sebagai modal perjuangan bangsa. (ASA)

ACARA HARI INI

ACARA MENDATANG

Public Policy Management

DEPARTEMEN