Wednesday, 13 September 2017
Menyoal Revolusi Industri 4.0, Dirut Pertamina Ajak Diskusi Mahasiswa

Revolusi 4.0 mengajukan tuntutan baru terhadap adanya inovasi berkelanjutan pada sektor-sektor strategis, salah satunya pada sektor energi. Menurut Klaus Schwab dalam bukunya yang berjudul The Fourth Industrial Revolution: revolusi industri generasi keempat ini ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. Merespon fenomena revolusi 4.0, Elia Massa Manik selaku Direktur Utama PT. Pertamina (Persero) diundang hadir ke Fisipol UGM untuk mendiskusikan isu tersebut.

CEOTalk #3 ini bertujuan untuk memberikan wawasan tentang bagaimana PT. Pertamina (Persero) merespon gelombang revolusi industri 4.0. Selain itu, acara ini juga menjadi media informasi kepada para peserta tentang pengaruh perkembangan teknologi pada proses produksi hulu hingga ke hilir serta distribusi industri energi di Indonesia.

Didapuk sebagai moderator, Dekan Fisipol UGM Dr. Erwan Agus Purwanto, M.Si. memberikan pengantar pada CEOTalk yang bertajuk Revolusi Industri 4.0 dan Masa Depan Energi Kita. Salah satu perubahan fundamental yang terjadi adalah dengan munculnya masyarakat digital. Kemunculan masyarakat digital dipengaruhi revolusi dalam bidang teknologi informasi dimana semua kegiatan masyarakat sekarang terkoneksi dan terekam yang kini dikenal dengan sebutan big data. “Oleh karena itu, kita perlu peka terhadap disrupsi disekitar sehingga bisa memprediksi apa yang terjadi dimasa depan termasuk revolusi industri 4.0,” ungkap Dr. Erwan Agus Purwanto, M.Si.

Dalam paparan, Elia Massa Manik, PT. Pertamina (Persero) sebagai perusahaan yang memegang peranan penting dalam menopang kebutuhan energi nasional telah melakukan inovasi yang sejalan dengan perkembangan teknologi dunia. PT. Pertamina (Persero) telah melakukan pengembangan untuk menambah variasi produknya, contohnya dengan penambahan varian pertalite dengan oktan 90 pada produk BBM, peluncuran produk BrightGas 5,5 yang hemat dan ramah lingkungan, dan lain-lain.

“Dengan disrupsi yang ada, PT. Pertamina berupaya untuk terus meningkatkan pengalaman pelanggan, salah satunya lewat digital merketing. PT. Pertamina (Persero) juga tengah mengakselerasi beberapa inovasi berbasis aplikasi dan sistem yang dapat dimanfaatkan oleh konsumen/masyarakat, antara lain Pertamina Go, Online Ordering, dan Channel Engagement App untuk SPBU,” jelas Elia Massa Manik.

Ke depan, PT. Pertamina (Persero) telah memiliki perencanaan yang berorientasi kepada kemajuan teknologi di era revolusi industri keempat. Sektor-sektor yang kini tengah dikembangkan secara teknologi ialah penggalian kilang minyak, pengolahan temuan migas, hingga pemasaran digital. Sebagai perusahaan yang telah lama bergerak di bidang industri energi, orientasi menuju revolusi industri akan semakin memperkuat kemandirian Pertamina sebagai National Oil Company (NOC) yang mendunia. (/dbr)

Public Policy Management

DEPARTEMEN