Friday, 10 March 2017
Terpilih Menjadi Presiden AS, Trump Berhubungan Baik dengan Rusia

Hubungan antara AS dan Rusia dalam hal politik, selama ini ibarat air dan minyak. Tidak dapat disatukan dan selalu berseberangan. Namun, Donald Trump, setelah terpilih sebagai presiden AS mengatakan, bahwa dirinya akan menjalin hubungan yang lebih baik dengan Rusia. Ia bahkan menganggap bahwa kepemimpinan Putin, jauh lebih baik dibandingkan presiden AS sebelumnya. Barack Obama dengan Putin dinilai memiliki hubungan yang tidak saling percaya (lack of trust), berbeda dengan Trump yang sudah menunjukkan dukungannya terhadap Putin sejak lama, terhitung saat konflik estonia dan respon NATO pada tahun 2014. Hal ini menunjukan ada hubungan unik yang terjadi secara personal antara Trump dan Putin.

‘Kisah Cinta’ ini menjadi bahan utama diskusi yang diselenggarakan oleh Institute of International Studies (IIS) pada Kamis (9/3) bertempat di Ruang BA 503 FISIPOL UGM. Diskusi dimulai pada pukul 10.00 WIB hingga 11.45 WIB. Pengantar diskusi dipaparkan oleh Dosen Kajian Amerika Serikat Departemen Ilmu Hubungan Internasional UGM, Dr. Nur Rachmat Yuliantoro, dan dimoderatori oleh Dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Ayu Diasti Rahmawati, MA. Peserta yang hadir terlibat di dalam diskusi cukup banyak, yaitu sekitar 20-an orang.

Dalam pemaparannya, Dr. Rachmat memaparkan, menurut Jeffrey Sachs, seorang ekonom asal AS, bahwa Donald Trump dapat dilihat sebagai tiga tipe orang yang berbeda, yaitu: seorang yang bersahabat dengan Putin, seorang pengusaha yang serakah, dan seorang demagog (orang yang memanfaatkan sentimen pemilih untuk memperoleh suara). Khusus pada tipe yang ketiga, ia mengatakan bahwa tipe inilah yang paling berbahaya. Hal ini dibuktikan dengan kebijakan Trump yang sangat rasis dan anti-imigran. Selain itu Dr. Rachmat memberikan contoh kasus mengenai kedekatan Trump dengan Putin. Micheal Flynn, seorang pendukung demokrat namun mendukung Trump pada saat eleksi. Oleh karena itu Trump mengangkat Flynn menjadi penasihat keamanan nasional. Namun pada akhirnya Flynn mengundurkan diri dikarenakan terbukti berbohong serta pernah melakukan percakapan dengan Duta Besar Rusia untuk Amerika Serikat. Selain Flynn, terdapat nama Jeff Sessions yang diduga melakukan pelanggaran yang sama dengan Flynn. Pada akhirnya Trump tetap bersikeras menyatakan bahwa Flynn dan Sessions tidak bersalah. Sikap Trumo yang tidak konstruktif dalam mengatasi kejadian ini secara langsung membantah relasi khusus yang ada dengan Rusia.

Dr. Rachmat juga mengatakan, bahwa Trump percaya bahwa Rusia adalah penyelamat white supremacy atau supremasi kulit putih. Trump juga percaya bahwa kedekatannya dengan Putin, dapat membentuk hubungan AS-Rusia yang lebih harmonis. Namun, menurut Dr. Rachmat, hubungan AS-Rusia akan tetap konfliktual, walaupun Perang Dingin di antara keduanya sudah usai berpuluh tahun lalu.

Sesi tanya jawab dimulai setelah pemaparan oleh pembicara usai dilakukan. Para peserta diskusi cukup antusias dalam mengajukan pertanyaan dan komentar. Salah satu komentar disampaikan oleh salah satu Dosen Ilmu Hubungan Internasional yang juga hadir, Dr. Siti Mutiah Setiawati, mengenai ‘topeng’ yang selama ini digunakan AS untuk menjustifikasi perilakunya di kawasan lain, misalnya Timur Tengah. Ia menambahkan, bahwa dengan naiknya Trump ke kursi kepresidenan, menunjukan wajah AS yang sebenarnya.

dokumentasi: (Institute of International Studies)

Public Policy Management

DEPARTEMEN