Omni-Channel Dalam Jurnalisme Digital: Sharing Session Dan Campus Hiring Bersama Narasi TV

Yogyakarta, 2 Oktober 2018– Narasi TV sebagai pendatang baru dalam dunia jurnalisme digital kian ramai dikunjungi dan diperbincangkan oleh para warganet. Namun demikian, sebenarnya apa yang membedakan kanal seperti Narasi TV tersebut dengan situs informasi digital lainnya maupun dengan kanal televisi konvensional selama ini? Pertanyaan tersebut pula yang turut dibahas dalam rangkaian acara ‘Sharing Session & Campus Hiring Narasi TV’ pada 2 Oktober 2018 lalu, yang dilaksanakan atas kerja sama Fisipol UGM dan Narasi TV.

Bertempat di Seminar Timur Fisipol UGM, diskusi diawali dengan penyampaian materi dari empat orang pembicara yakni Dahlia Citra Buana selaku Chief Creative Officer Narasi TV, Pandu Dirgantara selaku Head of Production Services Narasi TV, Zidny Kadir selaku Head of Research & Development Narasi TV, dan Lisa Lindawati, S.IP., M.A. yang merupakan dosen Departemen Komunikasi Fisipol UGM.

“Narasi TV merupakan omni-channel. Artinya, Narasi TV tidak terbatas pada satu platform saja, melainkan memiliki banyak wilayah dan ranah walau utamanya tetap berada di www.narasi.tv,” ungkapnya. Sembari menayangkan beberapa potongan tayangan yang sudah pernah dipublikasikan dalam kanal Narasi TV, Dahlia lebih lanjut menyebutkan beberapa program seperti Catatan Najwa, Shihab & Shihab, Buka Mata, Narasi People, Kejar Tayang, Tompi & Glenn, Duo Budjang, Buka Buku, Teppy O Meter, Mau Tau, dan program-program lainnya di kanal tersebut.

Dalam kanal televisi online, menurut Dahlia, ada perbedaan dari setiap program; tak hanya dari sisi konten yang diulas tetapi juga teknik pengambilan gambar, karakteristik talent yang menyampaikan, hingga sasaran konsumen dari tiap program tersebut. Klasifikasi lain yang juga membedakan Narasi TV dengan kanal jurnalisme digital lainnya menurut Dahlia, adalah banyaknya acara yang diselenggarakan oleh Narasi TV untuk lebih mendekatkan diri dengan masyarakat Indonesia dari berbagai lapisan, maupun Mata Kita—sebutan bagi penonton dan penggemar setia Narasi TV di seluruh dunia. Dahlia menjabarkan bahwa kunjungan ke berbagai kota mulai dari Sorong hingga Banyuwangi, pelaksanaan Mata Najwa on Stage, dan berbagai acara lainnya diharapkan mampu meningkatkan ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap Narasi TV serta konten-konten jurnalistik berkualitas yang tersedia di dalamnya.

Lisa Lindawati melihat kehadiran kanal televisi digital ini dari sisi masifnya informasi yang beredar di masyarakat menyebabkan munculnya ‘tsunami of information’. Lisa mengungkapkan bahwa baik dari segi produksi dan distribusi, pesan yang disampaikan, hingga konsumen; media terus mengalami transformasi di era digital saat ini. Hal ini kemudian berimplikasi pula pada peran jurnalis yang juga berkembang; tak hanya sebagai penulis berita tetapi juga mampu menjalankan fungsi lain seperti authenticator, sense-maker, investigator, witness bearer, smart aggregator, dan lain sebagainya.

Secara proses produksi berita sendiri, media digital juga mengalami tantangan-tantangan teknis seperti teknik pengambilan gambar, hingga presentasi akhir ketika konten disebarkan. Menurut Pandu,sebagai pekerja produksi media harus terus berinovasi dan berpikir kreatif di luar fungsi utamanya agar bisa berkontribusi dalam menghasilkan konten yang berkualitas. Tak hanya dari pekerja produksi, Zidny pun menambahkan bahwa diperlukan pula riset dan analogi sasaran konsumen serta rencana konten yang jelas dari divisi pengembangan bisnis dalam Narasi TV itu sendiri. Sehingga nantinya, setiap data dan konten yang dihasilkan oleh kanal tersebut dapat dilacak tanggapan dan umpan baliknya, guna perkembangan dari kanal sendiri serta efisiensi produksi selanjutnya.

Sekitar 100 peserta walk in interview mengikuti seleksi wawancara setelah sharing session ditutup. Acara ini mendapatkan tanggapan yang antusias dari para fresh graduate di Yogyakarta. Sebagai media digital yang membutuhkan kreatifitas tinggi dalam proses produksi lebih mengutamakan para fresh graduate yang dinilai lebih bisa memberikan ide-ide terbaru. “Kami banyak menemui anak-anak magang yang ternyata idenya sadis-sadis. Mereka ini oke sekali idenya, itulah kenapa kita coba adakan Campus Hiring untuk pertama kalinya, dan itu diselenggarakan di Fisipol UGM,” papar Laode Dahlan yang ditemui setelah acara. (/sno)

«     |