CfDS Fisipol Bersama University of Oxford dan Worker Exchange Bahas Kerentanan Pekerja Ojek Online dalam Diskusi Publik Internasional

Yogyakarta, 25 Sepember 2025─Center for Digital Society (CfDS) Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan University of Oxford dan Worker Exchange menggelar Difussion #127 bertajuk “Algorithms at the Wheel: Global Perspectives on Ride-Hailing Work”. Diskusi ini menghadirkan Reuben Binns (University of Oxford), James Farrar (Worker Exchange), Ayom Mratita Purbandani (CfDS UGM), serta diskusan Suci Lestari Yuana (UGM).

Forum tersebut menyoroti bagaimana algoritma mengatur kerja pengemudi ojek online di berbagai belahan dunia. Forum ini mendiskusikan apakah sistem berbasis kecerdasan buatan ini benar-benar menciptakan efisiensi, atau justru memperkuat kerentanan pekerja. Melalui laporan riset berjudul “Precarity by Design: AI, Labor Discipline, and the Welfare of Ride-hailing Drivers in Jakarta and Gunungkidul”, peneliti CfDS menemukan bahwa ketertutupan (opacity) sistem AI bukanlah kebetulan, melainkan dirancang untuk mendukung kepentingan platform. Algoritma preferensial bekerja dengan cara mengeksploitasi fleksibilitas tenaga kerja, di mana pengemudi bekerja lebih lama untuk tetap “terlihat” di sistem.

Dalam pemaparannya, Ayom Mratita Purbandani mengatakan “Algoritma ini mengeksploitasi fleksibilitas tenaga kerja dengan mendorong pengemudi bekerja lebih lama agar tetap ‘terlihat’ di sistem. Selain itu, platform juga menjaga suplai pengemudi agar selalu tersedia, serta memungkinkan adanya diskriminasi harga melalui mekanisme dynamic pricing dan diferensiasi wilayah,” jelasnya.

Ia menambahkan, survei terhadap 56 pengemudi di Jakarta dan Gunungkidul menemukan 38 orang di antaranya menyadari adanya pola berbeda dalam distribusi order. “Di lapangan, muncul istilah akun ‘gacor’ untuk mereka yang sering mendapat order, dan akun ‘anyep’ untuk yang jarang menerima order. Istilah ini menggambarkan persepsi para pengemudi mengenai adanya favoritisme dalam sistem distribusi pesanan,” ujar Ayom dalam pemaparannya.

Melalui forum internasional ini, CfDS UGM dan mitra menekankan pentingnya transparansi algoritma dan perlindungan hak pekerja digital. Algoritma seharusnya tidak hanya menguntungkan platform, tetapi juga mendukung kesejahteraan pekerja yang menopang layanan. para pakar menilai penting untuk menyeimbangkan efisiensi teknologi dengan kesejahteraan pengemudi, agar platform digital tidak hanya menguntungkan perusahaan, tetapi juga menjamin masa depan kerja yang lebih inklusif. Dengan demikian, forum ini turut menjadi upaya untuk menggapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke-8 yaitu Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, yang mendorong adanya kondisi kerja adil, layak, dan berkelanjutan bagi semua. (/noor)