Terjemahkan Teori Ilmu Sosial Melalui Media Visual, SOREC FISIPOL UGM Luncurkan Proyek “SEKOCI”

Yogyakarta, 18 Mei 2026—Kerap kali, produksi pengetahuan dan diskursus ilmu sosial terutama sosiologi hanya bergaung secara eksklusif di ruang-ruang kelas, jurnal akademik, atau forum diskusi terbatas. Terkungkungnya ilmu pengetahuan di bawah atap menara gading ini membuat masyarakat luas kerap kesulitan mengakses dan memahami urgensi dari teori-teori sosial yang ada. Berangkat dari kegelisahan tersebut, Social Research Centre (SOREC) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UGM resmi menghadirkan sebuah terobosan inovatif yang dinamakan “SEKOCI Project”.

Inisiatif rintisan ini digawangi oleh kolaborasi tim yang terdiri dari M. R. A. Adhikaputra S., Aisya Sabili, Azrul Fatih, Fatihah Salwa, Shafri Naufal, dan Niesriendya S. Secara esensial, SEKOCI hadir sebagai moda komunikasi alternatif berbasis visual yang dirancang sedemikian rupa agar mudah dicerna oleh publik, namun tetap mempertahankan ketajaman jejak-jejak akademis di dalamnya.

Lebih dari sekadar konten, SEKOCI dimaknai sebagai sebuah sense of communication. Tim di balik layar tidak hanya melakukan produksi secara pasif, melainkan mempraktikkan sebuah kerja produksi aktif yang komprehensif; mulai dari proses brainstorming isu, kurasi materi, hingga pemilihan elemen-elemen visual yang memikat. Melalui pendekatan ini, SEKOCI memegang misi penting untuk mengenalkan kembali sosiologi kepada generasi mendatang melalui bahasa gambar yang relevan dan mengimplementasikannya pada situasi-situasi yang dekat dengan masyarakat.

“Lebih tajamnya lagi, bagaimana kita bisa menerjemahkan teori-teori kompleks dari sosiologi yang hanya bisa didapat di bawah atap akademik, dapat ditangkap oleh orang lain dengan lebih mudah,” ungkap Dhika. Ia menekankan bahwa target utama dari platform ini adalah meruntuhkan sekat agar khalayak di luar universitas dapat menyerap informasi keilmuan dengan baik.

Sejak diluncurkan, SEKOCI telah sukses merilis tiga karya yang memantik diskursus. Episode perdananya mengudara pada 6 April 2026 silam dengan tajuk “Perpetuasi Spiral Kekerasan”, yang materinya dibedah langsung oleh Ketua SOREC, Dr. Andreas Budi Widyanta. Menyusul kesuksesan tersebut, dua episode terbaru pun telah dirilis, yakni “Pendidikan Tinggi dan Epistemisida” yang dibawakan oleh Sosiolog UGM, Arie Sujito, serta episode ketiga bertajuk “Penjara Algoritma & Prekarisasi Digital” yang dipaparkan oleh peneliti SOREC UGM, Odam Asdi A.

Ke depannya, SEKOCI tidak hanya akan menjadi panggung bagi para peneliti senior. Perwakilan SOREC menyampaikan bahwa mereka juga membuka pintu partisipasi seluas-luasnya bagi mahasiswa program S1, S2, maupun S3 dan tidak hanya dari latar belakang ilmu sosiologi. Ruang inklusif ini memberikan kesempatan bagi para akademisi muda untuk mengirimkan submisi riset menarik yang potensial untuk dialihwahanakan menjadi sajian visual yang berdampak. Langkah ini menjadi wujud komitmen nyata dalam memperluas kesempatan belajar sepanjang hayat yang inklusif dan merata bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkungkung oleh batas-batas institusi formal.