Yogyakarta, 22 Mei 2026—Guna membekali mahasiswa dengan keterampilan riset tingkat lanjut, Institute of International Studies (IIS) UGM menyelenggarakan Research Toolkit Training #2 pada Jumat (22/05). Bertempat di Common Room DIHI, Gedung BC Lt. 5, pelatihan luring ini secara khusus mengupas tuntas metode Systematic Literature Review (SLR). Acara yang berlangsung dari pukul 13.30 hingga 16.00 WIB ini terbuka secara luas bagi mahasiswa S-1, S-2, maupun alumni Hubungan Internasional UGM.
Di tengah banjirnya literatur global, metode SLR diperkenalkan sebagai perangkat metodologis yang relevan untuk memetakan perkembangan ilmu pengetahuan (State-of-the-Art) secara objektif. Melalui sintesis data yang terstruktur dan dapat direplikasi, peserta diajarkan cara mengidentifikasi posisi riset mereka di antara ribuan publikasi ilmiah yang ada.

Dipandu oleh Fattaa Hayyu Tri Hapsari dari IIS UGM, sesi ini mengajak peserta untuk tidak hanya memahami teori, melainkan langsung mempraktikkan proses ekstraksi data secara transparan. Fattaa membedah kerangka kerja protokol PRISMA yang menjadi pedoman standar global. Ia menjelaskan bahwa proses ini terdiri dari tahapan yang runut. “Ada empat tahapan. Ada identifikasi, screening, eligibility, dan akhirnya inklusi,” paparnya kepada para peserta. Pada tahap identifikasi, peserta diajarkan teknik merumuskan kata kunci pencarian menggunakan instrumen logis seperti boolean operators (AND, OR, NOT) guna menyisir basis data akademik. Dari puluhan ribu hasil awal, literatur kemudian dikerucutkan pada tahap screening dengan menerapkan kriteria inklusi dan eksklusi secara ketat, seperti pembatasan tahun publikasi, jenis dokumen jurnal, hingga kesesuaian bahasa.
Lebih lanjut, pelatihan ini menyoroti tahapan eligibility (kelayakan) yang krusial sebelum melakukan ekstraksi data teks. Pada fase ini, peneliti diwajibkan membaca teks secara penuh untuk mengevaluasi kelayakan kualitas metode yang dipakai dalam literatur. Mengingat beragamnya sumber riset, Fattaa turut membagikan instrumen penilaian spesifik yang sering ia aplikasikan. “Karena aku menggunakan studi kualitatif, yang aku gunakan adalah CASP checklist atau Critical Appraisal Skills Program,” ungkapnya. Melalui instrumen ini, peserta membedah 10 kriteria evaluasi untuk menentukan bobot kualitas literatur. Artikel yang memiliki tingkat kelayakan di bawah 50 persen dikategorikan lemah dan tidak disarankan untuk digunakan, sementara artikel di atas 75 persen masuk kategori valid dan kuat untuk direviu. Jurnal-jurnal yang berhasil melewati tahap akhir ini kemudian diekstraksi ke dalam sintesis naratif untuk mengidentifikasi pola dan wacana yang dominan.
Di penghujung acara, peserta langsung diajak melakukan praktik simulasi menyaring artikel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, serta mengidentifikasi komponen kualitas studi. Melalui pembekalan analisis komprehensif ini, mahasiswa HI UGM diharapkan mampu memperluas pilihan metode riset mereka, serta menghasilkan karya ilmiah dengan landasan kuat, bebas dari bias seleksi, dan memiliki kredibilitas tinggi di tingkat internasional.