Stratifikasi gender yang menempatkan laki-laki di atas perempuan memaparkannya pada bahaya kekerasan seksual. Linda Sudiono (Dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta) mengungkapkan juga bahwa bahaya ini berakar dari kapitalisme dalam diskusi bertajuk ‘Kampus, Relasi Kekuasaan, dan Kekerasan Seksual’, Selasa (28/11) di Lobby MAP, Fisipol Unit II, Sekip. Ia berpendapat kapitalisme memanfaatkan manusia dan kerjanya sebagai komoditas. Keadaan ini menimbulkan alienasi manusia lain sebagai kompetitor dan objek dalam persaingan.
Berita
Prinsip non-intervensi dan kentalnya pola pikir persaingan di ASEAN menyebabkan absennya keselarasan dan kekompakan sepuluh negara di berbagai sektor. Hal ini disampaikan oleh para peneliti ASEAN Studies Center (ASC) dalam diseminasi hasil riset bertajuk “Rethinking the Future of ASEAN Community”, Selasa (28/11).
“Kita bisa melihat bahwa prevalensi penyakit di ASEAN tidak merata. Misalnya, di negara-negara seperti Filipina dan Vietnam, jumlah penyakit dan penderita lebih banyak. Negara-negara lain seperti Singapura dan Malaysia penanggulangannya yang lebih baik,” ungkap Ahmad Rizky M. Umar. Bersama timnya, ia membuat riset mengenai hak universal kesehatan dalam kaitannya dengan integrasi di ASEAN. Terungkap bahwa integrasi ASEAN untuk bidang kesehatan tidak terlihat, terutama di tingkat lokal. “ASEAN pertama kali mengangkat isu kesehatan sebagai isu regional pada tahun 2000-an, saat tren penderita AIDS meningkat. Baru pada tahun 2009, ASEAN menciptakan blue-print mengenai gaya hidup sehat dan kesejahteraan,” kata Umar. Koordinasi lebih banyak dilakukan dengan pemerintah pusat, misalnya dengan membentuk Health Ministerial Meeting sembari mengkategorikan masalah kesehatan menjadi isu keamanan.
Apakah kamu adalah salah satu orang yang masih berpikir pemimpin pasti laki-laki? Mulai sekarang hentikan pemikiran cupet itu. Memang, sebagian besar masyarakat masih mengkonstruksikan seorang pemimpin sebagai sosok yang tegas, cerdas, dan gagah. Dimana sifat-sifat tersebut selalu dikontekskan ada dalam diri laki-laki. Sehingga perempuan yang menduduki singgasana kepemimpinan masih sangat dianggap tabu.
Srikandi Lintas Iman, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, dan Departemen Sosiologi melalui seminar yang bertajuk “Memaknai Ulang Peran Dan Kepemimpinan Perempuan” mencoba mendekonstruksi pemikiran-pemikiran tersebut. Bertempat di Gedung BB Lantai 4 Fisipol UGM (25/11), acara ini menghadirkan Dr. Siti Aisyah, M.Pd selaku Pengurus Pusat Lajnah Imailah Jemaat Ahmadiyah Indonesia sebagai keynote speech. Selain itu acara ini juga dihadiri oleh Dr. Nina Mariani Noor selaku Ketua Lajnah Imailah Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Dr. Pdt. Murtini selaku Pendeta LPPS GJK-GKI SW, dan Alifatul Arifiati selaku Direktur Fahmina Institute sebagai pembicara.
Aulia, salah satu presenter di Ruang Grafika, Hotel University Club UGM, menerangkan bahwa dari sekian ratus ribu pengguna internet di Indonesia, 90% hanya digunakan untuk media sosial. Hiburan lebih banyak mendominasi aktivitas daring masyarakat Indonesia, sedangkan era digital yang memberikan peluang produktif belum menjadi prioritas masyarakat.
Fenomena ini merupakan konsekuensi dari apa yang disebut dengan digital divide, atau kemampuan menggunakan teknologi, dan eksistensinya dalam masyarakat Indonesia sangat nyata. Salah satu penyebabnya adalah mindset, rasa takut akan ancaman yang diberikan melalui arus informasi. Disparitas urban-rural juga jadi penyebab utama. Namun, orang yang secara rutin transmigrasi antara daerah rural dan urban berpeluang memainkan peran intermediary untuk membawa kemampuan teknologi (know-how)dari perkotaan ke pedesaan, dengan kata lain, mendomestikasi teknologi di area rural.
Seri One Week One Alumni kembali hadir. Kali ini, One Week One Alumni mengundang Anung Anindita, lulusan Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM angkatan 1988. Anung saat ini dikenal sebagai praktisi sumber daya manusia di PT Avrist Assurance. Kegiatan ini mengambil tempat di Gedung BA Ruang 103 pada Kamis (23/11) 2017.
Pada pendahuluannya, Anung menjelaskan bahwa setelah ia tamat dari Departemen Ilmu Pemerintahan pada tahun 1993, ia sempat hidup ‘luntang-luntung’. Tidak punya pekerjaan maupun keinginan untuk melanjutkan sekolah ke strata yang lebih tinggi. Kemudian, keinginannya untuk mendalami Ilmu Politik pada studi sosialisme dan komunisme harus ia kubur dalam-dalam ketika ia mendapatkan beasiswa Bank Dunia. Beasiswa ini mengharuskan Anung untuk mengambil jurusan social sciences. Setelah menimbang, Anung memilih untuk mengambil program diploma jurusan ekonomi di The Economics Institute, University of Colorado, Boulder. Setelahnya, Anung melanjutkan studi master ekonominya di University of Colorado Denver yang ia selesaikan pada tahun 1996.
Rabu (22/11) menjadi hari terakhir dari rangkaian Fisipol’s Research Day2017. Dilaksanakan paralel di beberapa tempat sekaligus di Fisipol UGM, Fisipol’s Research Day2017 menampilkan presentasi dari para penerima hibah riset Fisipol. Salah satu sesi yang berlangsung pada hari ketiga ini adalah sesi “Konflik dan Politik” yang diselenggarakan di Digilib Cafe, Fisipol UGM. Kegiatan kali ini menghadirkan Dr. Tia Pamungkas, staf pengajar dari Departemen Sosiologi sebagai moderator acara.
Presenter pertama adalah Willy Purna Samadhi, M.A. dengan hasil risetnya yang berjudul “Membangun Kerangka Assessment Demokrasi Berfokus pada Aktor Pro-Demokrasi”. Willy, melalui kerangka assessment ini mencoba melihat bagaimana aktor-aktor pro-demokrasi berinteraksi dan merespon proses demokratisasi yang sedang berjalan. Kerangka ini juga berupaya melihat demokratisasi dan demokrasi dari kacamata aktor-aktor pro-demokrasi. Mahasiswa program doktoral di Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM ini memiliki argumen bahwa strategi untuk mengembangkan demokrasi dan pilihan-pilihan yang dibuat oleh aktor terhadap suatu agenda sangat berkaitan dengan kapasitas politik dari aktor-aktor tersebut. Hal ini lantas akan menentukan pengaruh aktor dalam proses demokratisasi. Lebih lanjut menurut Willy, kemampuan dalam memberikan pengaruh dicirikan melalui tingkat kesuksesan untuk membentuk dan mengembangkan agenda serta strategi politik.
International Seminar on Social and Political Sciences (ISSOCP) akhirnya digelar, Kamis (23/11) di Hotel University Club UGM. Menteri Sekretaris Negara Pratkino dalam keynote speech-nyamenegaskan kembali pentingnya era digital untuk kegiatan politik dan ekonomi Indonesia. “Kita perlu menemukan kembali demokrasi kita. Sekarang sudah banyak inisiatif buat demokrasi dan gerakan sosial yang dimulai dari internet,” ujar Pratikno yang juga pernah menjabat Rektor UGM.
Ia mengatakan era digital saat ini mengizinkan kontribusi dan tanggung jawab masyarakat yang lebih besar dalam pembuatan kebijakan. “Pikirkanlah apa yang bisa menimbulkan disruptive effect, pikirkan sesuatu yang baru, tetapi tidak destructive,” kata Pratikno, sembari menekankan peran anak muda dalam berinovasi.
Tumbangnya rezim Orde Baru (Orba), menjadi titik awal lahirnya sistem demokrasi di Indonesia. Cerita tentang rezim otoriter seolah hilang bersamaan dengan lahirnya kekuasaan dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat. Sistem demokrasi ini diharapkan mampu membawa kesejahteraan bukan hanya bertumpu pada kelompok elit pemerintahan, tetapi juga menyebar ke seluruh lapisan masyarakat. Hal ini mengacu pada prinsip yang ditawarkan oleh sistem demokrasi itu sendiri dimana rakyatlah yang memegang penuh atas kontrol publik.
Karl Marx muda digambarkan sebagai sosok yang bersemangat dan penuh gairah dalam perlawanan kaum buruh. Bersama sahabatnya Friedrich Engels, Marx muda terus berkarya dan mengkritik para Hegelian muda di Jerman. Kritik tersebut merupakan bentuk usaha menumbangkan penindasan kaum borjuis di Jerman, Perancis, dan London sampai akhirnya menerbitkan Manifesto Partai Komunis pada 1948.
Belajar dari sosok Marx, Rudiyanto (Dosen Universitas Kristen Satya Wacana), yang juga seorang Marxis, mengingatkan pentingnya minat ilmiah kaum muda. “Judul diskusi kita hari ini Kaum Muda, Perlawanan, dan Perubahan Sosial. Saya mau mengingatkan bahwa Marx dan Engels sampai tua tetap radikal, berbeda dengan para Hegelian muda yang penuh keprihatinan dan emosi. Mereka mendasarkan tulisan mereka pada penemuan ilmiah. Jadi, kalau mau memulai perlawanan untuk perubahan sosial, kita perlu mengembangkan pendekatan yang ilmiah sebagai pejuang,” katanya.
Jika mendengar nama Semar dan Petruk pasti pikiran kita langsung tertuju pada cerita pewayangan ribuan tahun silam. Sehingga dua sosok ini sudah tidak begitu populer di kalangan generasi milenial. Namun, bagaimana jadinya kalau dua sosok ini berwujud teknologi Artificial Intelligence (AI)? Menggabungkan dua hal yang mempunyai perbedaan waktu cukup lama, zaman terdahulu dan sekarang.
Keunikan ini ditemukan oleh Lamia Putri Damayanti, S.IP dalam penelitiannya yang berjudul “Praktik Jurnalisme pada Situs Kurasi Berita (Studi Kasus Praktik Jurnalisme BerbasisTeknologi Artificial Intelligence pada Situs Beritagar.id)”. Penelitian ini merupakan satu diantara 65 hasil penelitian yang dipaparkan dalam Fisipol’s Research Days 2017.