Dosen Sosiologi FISIPOL UGM, Oki Rahadianto Sutopo, bersama Pam Nilan dan Wiwik Sushartami, mempublikasikan artikel ilmiah terbarunya berjudul “Contextualising the Subculture/Post-Subculture Debate: Young Indonesian Musicians Navigating Careers in the Digital Era”. Artikel ini mengangkat dinamika musisi muda Indonesia dalam membangun identitas dan karier di tengah transformasi digital yang semakin kompleks.
Penelitian ini berangkat dari perdebatan panjang dalam studi budaya anak muda mengenai konsep subculture dan post-subculture, yang selama beberapa dekade didominasi oleh perspektif Euro-Amerika. Dalam konteks tersebut, teori subkultur klasik menekankan identitas kolektif yang relatif stabil, sementara pendekatan post-subkultur melihat identitas anak muda sebagai sesuatu yang cair, terfragmentasi, dan dipengaruhi oleh konsumsi budaya. Melalui riset ini, penulis berupaya mengisi kesenjangan dengan menghadirkan perspektif dari Global South, khususnya Indonesia, yang memiliki kondisi sosial-ekonomi dan ketimpangan digital yang khas.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa musisi muda Indonesia tidak hanya berhadapan dengan persaingan yang tinggi dalam industri musik, tetapi juga dituntut untuk mengelola identitas artistik sekaligus menjalankan praktik kewirausahaan di tengah ekosistem digital yang didominasi oleh platform. Dalam situasi ini, mereka mengembangkan berbagai strategi kreatif untuk memperoleh visibilitas, membangun jaringan, serta menjaga keberlanjutan karier. Praktik-praktik tersebut memperlihatkan bahwa identitas subkultural tidak sepenuhnya hilang, melainkan bertransformasi menjadi bentuk yang lebih fleksibel dan kontekstual.
Lebih jauh, studi ini menegaskan bahwa pengalaman musisi muda di Indonesia menawarkan perspektif baru dalam memahami relevansi sekaligus keterbatasan perdebatan subkultur dan post-subkultur di era digital. Dalam kerangka pembangunan berkelanjutan, kajian ini berkaitan dengan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan sektor ekonomi kreatif, serta SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) yang menyoroti isu ketimpangan akses dan peluang dalam ekosistem digital global. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada pengembangan kajian sosiologi budaya dan studi kepemudaan, tetapi juga memberikan refleksi penting bagi penguatan industri kreatif yang inklusif di Indonesia.
Artikel selengkapnya dapat dibaca di sini.