Terjerat Paceklik, Industri Film Tanah Air Lumpuh

Adanya pagebluk Corona yang cukup lama mengakibatkan sejumlah industri kedatangan paceklik, tak terkecuali industri perfilman Indonesia. Imbas pandemi yang menyerang segenap sektor ini turut menghantam hebat jaringan bioskop sebagai layanan utama pemutaran film. Sejak 23 Maret 2020, Pemprov DKI Jakarta menonaktifkan operasional jaringan bioskop terbesar di Indonesia, Cinema XXI, untuk mendukung gerakan PSBB (Ardanareswari, 2020). Rencana awal penutupan sementara selama dua pekan berakhir diperpanjang sampai batas waktu yang tidak disebutkan seiring dengan situasi yang belum kondusif. Bahkan, hingga detik ini bioskop tak kunjung mendapat lampu hijau untuk membuka gerainya. Beberapa kali pembatalan izin pembukaan terpaksa dilakukan untuk mencegah penyebaran virus yang semakin meningkat. Akibatnya, penayangan dan promosi sejumlah film tanah air tertunda. Proses produksi pun banyak yang ditangguhkan tanpa kejelasan waktu kapan dilanjutkan.

Joko Anwar, salah satu sineas terkenal di Indonesia, menyebutkan kerugian industri film nasional mencapai 500 miliar selama tiga bulan tidak ada penayangan di bioskop (Sari, 2020). Ia mengungkapkan ada sekitar 30 film terpaksa menghentikan produksinya lantaran adanya pandemi. Sementara, pada tahun 2019 lalu, industri perfilman Indonesia mengeruk keuntungan hingga 2 triliun. Maka, dapat diperkirakan seberapa besar kerugian selama lima bulan belakangan terjadi kevakuman bioskop. Hal ini tentu membuat napas para sineas dan penggiat film kembang kempis menyoal pendapatan. Belum lagi biaya sewa gedung dan perawatan bioskop yang tetap jalan.

Padahal, industri film Indonesia tengah mengalami perkembangan yang sangat pesat sebelum terjadinya pandemi. Produser Chand Parwez menilai, 2020 seharusnya menjadi puncak kejayaan industri film nasional (Saraswati, 2020). Pernyataan tersebut didukung adanya lonjakan tinggi jumlah penonton beberapa tahun terakhir. Tercatat pada 2016 terdapat sebanyak 37,2 juta orang, 2017 sebanyak 42,7 juta orang, 2018 sebanyak 48,6 juta orang, dan 2019 sebanyak 53 juta orang penonton (Anisa, 2020). Sedangkan prediksi 60 juta penonton di tahun 2020, hanya terealisasi kurang dari 20% karena larangan aktivitas di luar rumah sebagai upaya pemutusan mata rantai penyebaran Covid-19, sehingga bioskop ditutup.

Meskipun pantas dibilang gulung tikar, para pelaku industri film tetap bergerak mencari jalan keluar sebagai alternatif kebuntuan. Pasalnya, tidak mungkin insan perfilman diam saja sembari menunggu pandemi usai sedangkan kita tidak tahu masih berapa lama lagi pagebluk ini akan berlalu. Dalam hal ini, diperlukan langkah yang logis untuk menyiasati dampak berkepanjangan, salah satunya yaitu mendistribusikan penayangan film secara online. Adanya layanan streaming atau video on demand diyakini dapat menjadi solusi yang tepat untuk memanfaatkan momentum pandemi dimana orang-orang lebih banyak berdiam di rumah. Perusahaan over the top (OTT) yang menyediakan layanan tersebut menjadi salah satu sektor yang justru diuntungkan selama periode karantina ini. Salah satu dari sedikit perusahaan yang memperoleh keuntungan besar adalah Netflix.

Pada kuartal pertama 2020, Netflix mendulang 15,77 juta pelanggan baru dengan laba USD 709 juta dari pendapatan USD 5,8 miliar. Angka tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding perkiraan sebelumnya yang hanya 7 juta pengguna. Kemudian pada kuartal kedua, Netflix memperoleh keuntungan USD 720 juta dari pendapatan USD 6,1 miliar. Kini, Netflix mengklaim telah memiliki 182,9 juta pelanggan secara global (Asih, 2020). Selain itu, layanan streaming serupa asal Amerika, Disney+, yang baru berdiri November 2019 lalu pun langsung memperoleh 50 juta subscribers hanya dalam kurun waktu lima bulan. Padahal, Netflix membutuhkan waktu 7 tahun untuk memperoleh angka tersebut.

COVID-19 yang menjadi musibah bagi kebanyakan sektor ini justru menuai berkah bagi perusahaan over the top seperti Netflix, Iflix, Disney+, HBO Max, dan layanan streaming lainnya untuk berlomba meraih pangsa pasar global. Disamping beberapa platform OTT milik asing tersebut, ada pula GoPlay yang merupakan produk anak bangsa diharapkan mampu bersanding dan mendukung karya-karya domestik lainnya. Momen ini sebetulnya memberikan kesempatan bagi para produser film nasional yang menghasilkan produk berkualitas untuk bersaing dengan konten-konten asing yang berpeluang menguasai panggung hiburan tanah air. Namun, yang masih menjadi tanda tanya di negeri kita adalah perihal protokol kesehatan saat produksi film. Sampai saat ini, pemerintah belum turun tangan untuk menuntaskan persoalan ini. Padahal, dengan diterapkannya kenormalan baru sudah sewajarnya memberikan angin segar bagi para pelaku industri perfilman untuk kembali melanjutkan proses syuting.

Meskipun sudah ada beberapa rumah produksi yang terpaksa memulai aktivitasnya, Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) terus mendesak Kemenkes agar segera mengesahkan protokol kesehatan di sektor film (Anggraini, 2020). Sebab, protokol kesehatan adalah kunci utama untuk menolong industri film yang nyaris berhenti total. Cara ini sebenarnya adalah yang paling efektif untuk mencegah kebobrokan industri film yang berkemungkinan berbuntut panjang dan semakin sulit dipulihkan. Disamping mendesak pemerintah, para pelaku industri film juga dapat sembari refleksi untuk meningkatkan value sebuah konten. Kita sebagai masyarakat pun harus memiliki kesadaran yang tinggi untuk lebih mendukung karya anak bangsa. Semua stakeholders, yaitu pemerintah, pelaku industri film, dan masyarakat diharapkan mampu bahu membahu untuk membangkitkan kembali perekonomian yang sedang lumpuh. (/Wfr)

 

 

Daftar pustaka:

Anggraini, P. (2020, Juni 16). Film Indonesia Diperkirakan Rugi Ratusan Miliar Imbas Pandemi Corona. DetikHot. Diakses dari https://m.detik.com/hot/movie/d-5055735/film-indonesia-diperkirakan-rugi-ratusan-miliar-imbas-pandemi-corona pada tanggal 5 September 2020.

Anisa, D.F. (2019, April 2). Merayakan dan Menjaga Masa Keemasan Film Nasional. BeritaSatu. Diakses dari https://www.beritasatu.com/elvira-anna-siahaan/hiburan/546426/merayakan-dan-menjaga-masa-keemasan-film-nasional pada tanggal 5 September 2020.

Ardanareswari, I. (2020, April 22). Bagaimana Industri Film Bertahan di Tengah Flu Spanyol & COVID-19. Tirto.id. Diakses dari https://tirto.id/bagaimana-industri-film-bertahan-di-tengah-flu-spanyol-covid-19-eNeF pada tanggal 5 September 2020.

Asih, D.N. (2020, Juli 2). Bioskop Tutup, Streaming Film akan Tumbuh Kala Pandemi. CNN Indonesia. Diakses dari https://m.cnnindonesia.com/teknologi/20200702074618-185-519838/bioskop-tutup-streaming-film-akan-tumbuh-kala-pandemi pada tanggal 5 September 2020.

Saraswati, D.P. (2020, Juni 21). 2020 Semestinya Titik Kebangkitan Film Indonesia. DetikHot. Diakses dari https://m.detik.com/hot/movie/d-5062519/2020-semestinya-titik-kebangkitan-film-indonesia pada tanggal 5 September 2020.

Sari, R.P. (2020, Mei 31). Joko Anwar Angkat Bicara Nasib Perfilman di Tengah Pandemi Corona. Kompas.com. Diakses dari https://www.kompas.com/hype/read/2020/05/31/105557166/joko-anwar-angkat-bicara-nasib-perfilman-di-tengah-pandemi-corona pada tanggal 5 September 2020.

Sumber gambar: freepik.com