Membedah Dinamika Kajian Kawasan Asia Tenggara, FISIPOL UGM Gelar Workshop Visiting Scholar Bersama Dr. Priyambudi Sulistiyanto

Yogyakarta, 16 April 2026─Kawasan Asia Tenggara terus menjadi ruang kajian yang dinamis sekaligus kompleks bagi para akademisi. Guna memperkuat metodologi dan kedalaman analisis terhadap kawasan ini, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UGM menyelenggarakan workshop bertajuk “Comparative Southeast Asia” pada Kamis (16/4). Agenda ini dilaksanakan di Ruang Sidang Dekanat Gedung BA 201 dengan menghadirkan Dr. Priyambudi Sulistiyanto, seorang Adjunct Senior Lecturer dari Flinders University, Australia sebagai pembicara.

Workshop ini merupakan salah satu dari beberapa agenda Visiting Scholar yang berlangsung sejak 30 Maret hingga nantinya akan selesai pada tanggal 21 April 2026. “Kali ini saya ingin menceritakan refleksi dari apa yang sudah saya kerjakan lama ya kira-kira. 30 tahun-an sejak riset ke lapangan dan kemudian menerbitkan. Dari proses riset untuk tesis Doktoral saya.” Ungkap Dr. Budi. Seperti yang disampaikan beliau bahwa workshop ini banyak menceritakan perjalanan riset kawasan Asia dan Asia Tenggara. Acara ini disambut antusias dan dihadiri oleh para mahasiswa program Doktoral, dosen, serta peneliti di lingkungan fakultas. Kehadiran pakar yang akrab disapa Dr. Budi ini membuka ruang diskursus yang berharga, terutama bagi mahasiswa doktoral yang tengah mematangkan rancangan riset dan kerangka teoretis mereka. 

Dr. Budi menyoroti bagaimana tiga negara yaitu Indonesia, Thailand, dan Burma (Myanmar) merespons turbulensi sejarah, dengan mengupas temuan persamaan dan perbedaan tatkala krisis politik dan ekonomi mengguncang kawasan pada tahun 1997. Pendekatan kritis inilah yang pada akhirnya memunculkan kebaruan (novelty) dalam karyanya. “Sumbangannya kira-kira pada hal yang dulunya belum ada, yakni melakukan perbandingan tiga negara yang memiliki tradisi militer kuat,” tutur Dr. Budi saat menjelaskan posisi unik risetnya di antara literatur kajian Asia Tenggara saat ini.

Lebih dari sekadar menyajikan data akademis, Dr. Budi turut membagikan sisi humanis dari proses pencarian pengetahuan. Suka duka perjalanan lapangannya yang penuh tantangan diabadikan secara apik melalui karya tulisnya. Hal ini memuncak pada terbitnya buku berjudul ‘Melawat ke Asia’, yang ia sebut sebagai sebuah refleksi personal sekaligus akademis atas dedikasinya pada kajian kewilayahan.

Terkait perumusan metodologi, Dr. Budi memberikan penekanan penting bagi para peneliti. Ia mengingatkan bahwa studi komparasi tidak bisa sekadar disandarkan pada skenario atau teori tunggal yang terlampau menyederhanakan masalah. Peneliti dituntut untuk jeli dan kritis dalam memaknai irisan persamaan dan perbedaan dari fenomena yang diangkat. Pemaparan materi Dr. Budi kemudian memantik diskusi yang hangat dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif. 

Workshop ini menjadi contoh komitmen FISIPOL UGM dalam menciptakan lingkungan akademik yang inklusif. Dengan mengundang akademisi yang telah meneliti level global seperti Dr. Budi, fakultas tidak hanya meningkatkan akses pendidikan tetapi juga memperkaya keberagaman budaya dalam diskursus akademik. Acara ini sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya pembelajaran kolaboratif dan berbagi perspektif yang beragam dalam memahami kompleksitas Asia Tenggara. Seiring dengan terus berkembangnya kawasan ini, wawasan yang diperoleh dari workshop semacam ini pasti akan berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam tentang lanskap sosial politiknya.