Yogyakarta, 12 Mei 2026 — Sebagai wujud komitmen institusi pendidikan dalam memfasilitasi ruang dialektika yang inklusif, Social Research Centre (SOREC) Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UGM mengambil inisiatif strategis dengan mewadahi ‘Ruang Solidaritas Papua Untuk Kedaulatan Tanah, Pangan, dan Kehidupan’. Acara ini diwujudkan melalui kegiatan pemutaran, menonton bersama, dan diskusi film dokumenter bertajuk Pesta Babi. Dilaksanakan pada Selasa (12/5) di Auditorium Lt.4 FISIPOL UGM, agenda ini memantik antusiasme yang sangat besar dan luas dari berbagai elemen, mulai dari sivitas akademika hingga masyarakat umum.

Agenda utama diawali dengan pemutaran film Pesta Babi, sebuah karya dokumenter garapan jurnalis Dandhy Dwi Laksono bersama tim. Setelah sesi pemutaran usai, SOREC melanjutkan acara ke dalam sesi diskusi interaktif yang dipandu secara apik oleh Sana Ulaili dari Forum Cik Di Tiro. Diskusi ini menghadirkan tiga pemantik dengan ragam perspektif, yakni Bagus Sulistiono (Pusat Pengembangan Kapasitas dan Kerjasama/PPKK FISIPOL UGM), Made Supriatma (CRRS dan Majelis Pengetahuan YLBHI), serta Herni Saraswati (Perempuan Petani). Ruang tukar gagasan ini semakin hidup ketika isu-isu di dalam film direspons langsung oleh perwakilan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) serta beberapa Masyarakat Adat Papua Wilayah Meepago, Lapago, dan Animha.
Dalam kesempatan tersebut, Herni Saraswati menyoroti krisis ruang hidup dari sudut pandangnya sebagai seorang petani. “Saya melihat betapa dimanfaatkannya lahan beratus-ratus juta hektar yang digunakan menjadi lahan pembangunan dengan kurang memperhatikan masyarakat, itu yang menjadi keprihatinan saya. Padahal itu tanah dan warisan yang harus dilanjutkan bagi generasi kita di masa mendatang,” ungkap Herni. Ia juga menitipkan harapan kuat agar implementasi Proyek Strategis Nasional (PSN) ke depannya dapat lebih berpusat pada kebutuhan dan keselamatan masyarakat lokal.

Untuk memperkaya nuansa solidaritas kultural, acara ini tidak hanya berhenti pada sekat diskusi formal. Rangkaian acara turut diisi oleh ragam ekspresi seni dan pergerakan, meliputi sesi live sablon, pembacaan puisi, orasi politik, pameran karya seni, dan panggung seni sarat makna dari grup Membesak.
Penyediaan ruang solidaritas oleh ini pada akhirnya menjadi penegas peran perguruan tinggi dalam menjembatani suara masyarakat. Wadah diskusi semacam ini krusial untuk mengingatkan publik bahwa setiap arah pembangunan sejatinya harus selaras dengan upaya melindungi dan memulihkan ekosistem daratan, demi menjamin sistem pangan yang berkeadilan bagi masa depan seluruh makhluk hidup.