Yogyakarta, 12 Februari 2026—Center for Digital Society (CfDS) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM), bekerja sama dengan Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) dan BBC Media Action, menyelenggarakan DigiTalk #64 bertajuk “Navigasi Ruang Digital: Kolaborasi Lintas Sektor Mengatasi Disinformasi” sekaligus diseminasi Policy Paper: Peta Jalan Penanganan Disinformasi di Indonesia. Diskusi publik ini berlangsung secara luring di Auditorium Mandiri Lt. 4, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UGM, serta disiarkan langsung melalui YouTube di kanal CfDS UGM dan MASTEL TV.
Forum ini menghadirkan Neil R. Tobing, Kepala Divisi Media Digital dan Penyiaran MASTEL; Pratiwi Utami, Dosen Departemen Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM; serta Septiaji Eko Nugroho, Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO), sebagai narasumber. Diskusi dimoderatori oleh Engelbertus Wendratama, Peneliti di MASTEL dan PR2Media. Selain itu, acara dibuka dengan sambutan dari Sarwoto Atmosutarno, Ketua Umum MASTEL.

Dalam sambutan pembukaannya, Sarwoto menyoroti urgensi penguatan kolaborasi antar pemangku kepentingan untuk merespons meningkatnya skala dan kecanggihan disinformasi. “Tidak ada satu aktor pun yang dapat secara efektif mengatasi persoalan ini sendirian, sehingga kerja sama multipihak menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem digital yang lebih sehat. Disinformasi merupakan akibat dari perkembangan digital yang harus kita pelajari bersama,” Ia menekankan.
Selanjutnya, Neil R. Tobing menekankan betapa krusialnya pengembangan kerangka kebijakan bersama serta penguatan literasi media sebagai antitesis dari disinformasi. Ia menekankan bahwa integrasi antara aktor multisektor diperlukan untuk mencapai kebijakan penyiaran yang adaptif. Pratiwi Utami sebagai pembicara kedua menegaskan peran penting akademisi dalam menghasilkan riset berbasis bukti dan rekomendasi kebijakan yang dapat mendukung strategi mitigasi disinformasi yang lebih efektif. Ia juga menekankan perlunya mengintegrasikan literasi digital kritis dalam pendidikan formal dan nonformal guna memberdayakan warga sebagai partisipan aktif dan bertanggung jawab di ruang digital.

Sementara itu, Septiaji Eko Nugroho menjelaskan bahwa kolaborasi berkelanjutan dengan platform digital, organisasi media, dan pembuat kebijakan diperlukan untuk memperluas dampak serta memperkuat kepercayaan publik. “Kita bisa menghadapi masifnya disinformasi dan scam dengan eksistensi model literasi digital yang fokus pada kognitif, psikologis, dan perilaku,” tambahnya.
Melalui DigiTalk #64, CfDS UGM, MASTEL, dan BBC Media Action menegaskan kembali komitmen dalam mendorong kolaborasi lintas sektor untuk mengatasi disinformasi di Indonesia.