Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Social Research Centre Departemen Sosiologi menyelenggarakan Diskusi Publik dan Peluncuran Buku Seri Kajian Petani dan Perubahan Agraria bertajuk “Krisis Regenerasi Petani Indonesia dan Aktivisme Agraria Transnasional” pada hari ini, Kamis (5/2) di Auditorium Fisipol UGM.

Mengundang Jun Borras (Penulis Buku Dinamika Politik Gerakan Agraria Transnasional dan Aktivisme Cendekia & Perjuangan Agraria), Amalinda Savirani (Guru Besar Departemen Politik dan Pemerintahan UGM), Pitra Hutomo (Lingkar Keadilan Ruang), Ben White (Penulis Buku Pertanian & Masalah Generasi), dan Oki Rahadianto Sutopo (Dosen Departemen Sosiologi UGM) sebagai pembicara, diskusi ini menitikberatkan pada perspektif mendalam mengenai dinamika perubahan agraria dalam krisis regenerasi petani serta tantangan keadilan agraria di Indonesia.
Laksmi Savitri selaku Koordinator Penerbitan Seri Kajian Petani dan Perubahan dalam sambutannya menyoroti relevansi aktivisme agraria di masa sekarang.
“Menulis buku dan mendiskusinya di dalam forum yang mempertemukan para scholar yang memiliki reputasi internasional maupun dengan para aktivis di tingkat global serta pembuat kebijakan harapannya dapat membawa semangat yang lebih militan untuk mendalami demoktratisasi agraria dan juga melakukan aktivisme dalam perubahan agraria,” paparnya.
Adapun, diskusi ini membahas dua benang besar dari seri kajian petani dan perubahan agraria. Pertama perihal krisis regenerasi petani, secara khusus bagaimana persoalan tanah penghidupan dan masa depan pertanian dipahami lintas generasi. Kedua, perihal dinamika gerakan agraria nasional termasuk peran negara dan gerakan rakyat atau aktivisme cendekia dalam menghadapi dinamika konflik agraria.
Acara yang terlaksana atas kerja sama antara SOREC, YOUSURE, Initiatives in Critical Agrarian Studies (ICAS), Insist Press, dan Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan UGM ini membuka ruang untuk berpikir kritis dan berdialog demi demokratisasi pengetahuan dan kajian agraria kritis serta sejalan dengan komitmen pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui pembahasan keberlanjutan pertanian dan regenerasi petani sebagai penopang sistem pangan nasional. Selain itu, diskusi ini juga berkontribusi pada SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan) dengan menyoroti ketimpangan penguasaan dan akses atas tanah, serta SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui kajian kritis atas konflik agraria, peran negara, dan aktivisme cendekia dalam memperjuangkan keadilan agraria. Kolaborasi lintas institusi akademik, masyarakat sipil, dan jejaring transnasional yang terlibat dalam kegiatan ini turut merefleksikan semangat SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dalam mendorong demokratisasi pengetahuan dan penguatan kajian agraria kritis di Indonesia.