FISIPOL UGM Gelar Syawalan 1447 H Serukan Penguatan Ukhuwah Insaniah Hadapi Polikrisis

Yogyakarta, 2 April 2026 ─ Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menyelenggarakan acara silaturahmi tahunan, Syawalan 1 Syawal 1447 H pada Kamis (2/4). Bertempat di Selasar Barat FISIPOL UGM, acara yang berlangsung sejak pukul 10.00 ini mengangkat tema sentral yang sangat relevan dengan dinamika global saat ini, yakni “Memperkuat Ukhuwah Insaniah dalam Menghadapi Polikrisis”. Acara Syawalan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, pensiunan, serta mahasiswa yang berbaur menjadi satu.

Acara ini dibuka dengan sambutan dari Dekan FISIPOL UGM, Dr. Wawan Mas’udi, Ph.D. Dalam sambutannya, Wawan menyoroti urgensi untuk terus menjaga Ukhuwah Insaniah (persaudaraan sesama manusia) di era yang penuh ketidakpastian dan krisis saat ini, khususnya di tengah keberagaman yang menjadi identitas bangsa. “Di tengah perbedaan yang dihadapi, kita bisa terus menjadi satu kesatuan dan menjaga Ukhuwah Islamiyah, Wathaniyah, dan Insaniah,” tuturnya.

Kegiatan inti kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari tamu undangan  Alissa Wahid, S.Psi., M.Psi. sebagai pembicara. Ia membawakan refleksi kritis mengenai paradoks yang terjadi di masyarakat saat ini. Alissa menyebutkan sebuah hasil riset yang menunjukkan bahwa lebih dari 90% masyarakat Indonesia menganggap agama adalah hal yang penting dalam hidupnya.

Melihat tingginya angka tersebut, Alissa menyoroti bahwa secara logis, semestinya tidak akan ada lagi praktik penyalahgunaan kekuasaan atau perbuatan-perbuatan buruk yang melenceng dari nilai-nilai luhur keagamaan yang diajarkan. Oleh karena itu, di tengah tantangan krisis multidimensi atau polikrisis, nilai agama harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata yang berpihak pada kemanusiaan dan keadilan sosial, bukan sekadar identitas.

Sebagai penutup, Alissa memberikan pesan yang kuat dengan mengajak seluruh civitas akademika FISIPOL UGM untuk turut andil dalam membangun sistem yang lebih baik. Ia menekankan bahwa menjadi pribadi yang baik saja tidaklah cukup, melainkan harus proaktif menebarkan dampak positif di masyarakat.

“Dari sholeh dan sholehah menjadi muslim dan muslimah. Bukan hanya menjadi orang yang baik, tapi membawa kebaikan. Bagaimana seperti kita dituntut oleh Rasulullah SAW, ‘Khoirunnas Anfa’uhum Linnas’, yaitu sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain,” tutup Alissa.

Kegiatan yang sarat akan refleksi ini kemudian ditutup dengan sesi ramah tamah dan saling bermaaf-maafan. Melalui momen silaturahmi ini, diharapkan semangat kolaborasi di lingkungan FISIPOL UGM dapat semakin kokoh untuk terus membawa manfaat nyata bagi masyarakat luas dan menjaga perdamaian.