Yogyakarta, 4 Maret 2026 ─ Youth Studies Centre (YouSure) FISIPOL UGM bersama Kelompok Riset Youth, Human Capital, & Future of Work (YHCFW) Pusat Riset Kependudukan BRIN selenggarakan diskusi buku yang bertajuk Reading Group “Reboan” #141 ”Pengantar Perspektif Kepemudaan: Transisi, Budaya dan Generasi Sosial” karya Oki Rahadianto Sutopo dan Elok Santi Jesica pada Rabu (4/3) secara daring.
Diskusi buku menghadirkan narasumber yaitu Dr. Phil. Oki Rahadianto Sutopo, dosen Departemen Sosiologi FISIPOL UGM selaku penulis buku sekaligus Direktur YouSure dan Gutomo Bayu Aji (Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN), serta Fikri Muslim (Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN) sebagai moderator yang memandu jalannya proses acara.

Buku yang rampung disusun sejak tahun 2023 ini akhirnya resmi menyapa publik pada tahun 2025 dan membawa angin segar bagi kajian kepemudaan. “Perspektif transisi, budaya kaum muda dan generasi sosial menjadi perspektif dasar yang diangkat untuk bisa membantu kaum muda melihat dirinya sekaligus menavigasi masa depan,” ungkap Oki. Buku ini dirancang agar bisa terasa sedekat mungkin dengan kaum muda di era kontemporer, dapat dilihat dari penggunaan kacamata lintas disiplin yaitu Sosiologi dengan Kajian Media dan Budaya. Salah satu irisannya terletak pada berbagai contoh budaya pop yang dekat dengan realitas anak muda itu sendiri. Bacaan ini diharapkan menjadi “ketukan pintu” pertama bagi siapa saja yang ingin berkenalan dengan Youth Studies.
Hal ini selaras dengan kesan pembacaan oleh Gutomo Bayu Aji. Ia memberikan apresiasi yang tinggi terhadap buku ini dan menyebutnya sebagai pionir kontributor di Indonesia dalam memetakan tiga pendekatan (transisi, budaya dan generasi sosial) menjadi sebuah karya ilmiah. Gutomo mengulas keseluruhan isi buku yang terdiri dari lima bab yaitu Pendahuluan, Perspektif Transisi, Perspektif Kaum Muda, Perspektif Generasi Sosial, dan Alternatif Pengembangan Kajian Kepemudaan. Satu hal yang menarik adalah buku ini menantang dominasi teori kepemudaan Barat dan menawarkan ruang bagi pengalaman anak muda di negara-negara Selatan seperti Indonesia untuk ikut bersuara.
Pada akhirnya, diskusi ini ditutup oleh Oki dengan refleksi bahwa anak muda tidak lahir dari titik awal yang setara; ada yang mampu berlari cepat, namun ada pula yang hanya bisa berjalan pelan. Oleh karena itu, agenda ke depan harus berani memberikan ruang dan opsi yang lebih bervariatif, membebaskan generasi muda untuk mengeksplorasi dan membayangkan rumusan diri di masa depan versi mereka sendiri, sesuai dengan realitas yang mereka jalani hari ini.