Bangun Lingkungan Kampus yang Inklusif, Fisipol Crisis Center UGM Gelar Pelatihan Psychological First Aid (PFA)

Yogyakarta, 23 April 2026─Isu kesehatan mental di kalangan mahasiswa kini semakin mendapatkan perhatian serius dari berbagai pihak. Merespons urgensi tersebut dan sebagai langkah nyata dalam menciptakan ruang belajar yang aman, Fisipol Crisis Center (FCC) UGM bekerja sama dengan Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM sukses menyelenggarakan Pelatihan Psychological First Aid (PFA).

Kegiatan yang bertujuan untuk membekali civitas akademika dalam mempersiapkan diri ketika menghadapi krisis mental ini berlangsung pada Kamis (23/4) mulai pukul 08.00 hingga 15.00 WIB dan berlangsung di Ruang BG 203, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UGM, acara ini secara khusus menyasar mahasiswa yang aktif tergabung dalam berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di lingkungan FISIPOL, serta terbuka bagi masyarakat umum yang memiliki ketertarikan terhadap isu kesehatan mental ini.

Pelaksanaan pelatihan PFA kali ini sejatinya bukanlah langkah pertama yang diambil oleh FCC. Agenda ini merupakan bentuk regenerasi penting dari program serupa yang pernah diinisiasi sebelumnya, mengingat adanya pergantian angkatan mahasiswa setiap tahunnya. “FCC (Fisipol Crisis Center) pernah melaksanakan pelatihan ini tiga tahun yang lalu kepada mahasiswa. Namun, karena saat ini mereka sudah lulus atau hampir lulus ya, jadi kami melakukan pembaruan,” ungkap Arie, perwakilan Fisipol Crisis Center UGM, dalam sambutannya.

Arie juga menegaskan bahwa konsistensi pelaksanaan kegiatan ini adalah manifestasi dari komitmen berkelanjutan FCC dalam mewujudkan dan merawat lingkungan kampus yang inklusif, aman, serta saling mendukung.

Pelatihan ini dikemas dengan metode yang sangat komprehensif, memadukan pemaparan materi interaktif dan sesi praktik langsung. Sepanjang acara, peserta dibekali dengan berbagai pengetahuan esensial, antara lain:

  • Peningkatan Literasi Kesehatan Mental: Memahami perbedaan antara stres biasa dan krisis psikologis.
  • Penanganan Krisis Spesifik: Panduan menghadapi situasi darurat seperti Non-Suicidal Self-Injury (NSSI) dan Suicidal Self-Injury (SSI).
  • Komunikasi Suportif: Teknik mendengarkan secara aktif dan memberikan respons yang berempati tanpa menghakimi.
  • Sesi Roleplay: Puncak acara di mana peserta mempraktikkan langsung ilmu yang didapat melalui studi kasus dunia nyata agar lebih luwes dalam memberikan pertolongan pertama.

Dalam sesi pemaparannya, Nurul Hidayati, S.Psi., selaku pemateri dari CPMH UGM, menggarisbawahi pemahaman esensial mengenai akar terjadinya krisis mental. Ia membedah miskonsepsi bahwa krisis psikologis sering kali dianggap muncul secara tiba-tiba tanpa sebab atau hanya karena satu hal. “Tekanan hidup sehari-hari saja sebenarnya tidak akan membuat orang sakit jiwa. Hal itu terjadi dari hal-hal lain (biologis, psikologis, dan sosial) yang saling bertumpuk hingga akhirnya meledak,” jelas Nurul menekankan pendekatan bio-psiko-sosial dalam kesehatan mental.

Pesan tersebut menggarisbawahi urgensi deteksi dini dan dukungan sosial sebagai pilar pencegahan krisis yang lebih berat. Melalui pelatihan ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya terampil secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial. Inisiatif ini menjadi langkah kecil menuju sebuah lingkungan kampus yang resilien, responsif, dan penuh empati.