Yogyakarta, 29 Mei 2026─Momen wisuda selalu membawa kelegaan dan kebanggaan, tak terkecuali bagi Muhammad Irsyad. Pada Kamis (21/5) Irsyad secara resmi menjadi salah satu wisudawan Program Studi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) FISIPOL UGM. Meskipun memiliki kondisi disabilitas netra tak menjadi penghalang dalam perjalanan meraih gelar sarjana yang memberinya banyak pelajaran bermakna. Mengawali kuliah di masa pandemi tentu memberikan tantangan adaptasi yang tidak mudah, namun Irsyad berhasil membuktikan bahwa situasi tersebut tak menyurutkan langkahnya untuk mendapatkan akses pendidikan yang setara dan berkualitas.
Semangat Irsyad dalam menyuarakan kesetaraan juga tercermin kuat dari tugas akhirnya. Ia meneliti isu yang sangat esensial, yakni terkait kebijakan ketenagakerjaan bagi penyandang disabilitas di Indonesia. Meski sempat kesulitan mencari literatur karena topik tersebut masih jarang dikaji, Irsyad pantang menyerah. Semangat untuk berdaya ini juga ia bawa ke luar kelas. Selama berkuliah, Irsyad aktif membangun ruang yang ramah disabilitas dan inklusif, mulai dari bergabung di divisi PSDM KAPSTRA, menjadi staf Humas PPSMB Empower, hingga berpartisipasi aktif dalam berbagai kampanye disability awareness bersama UKM Peduli Difabel UGM.

Pencapaian luar biasa ini tak lepas dari kehadiran support system dan ekosistem kampus yang suportif. Irsyad menuturkan bahwa keluarga, teman-teman seangkatan, hingga kehadiran Unit Layanan Disabilitas UGM sangat membantunya dalam hal akademik maupun mobilitas harian. Ia mensyukuri setiap langkah yang diambil, mulai dari masa transisi perkuliahan menjadi luring semenjak pandemi Covid-19 yang memberinya kesempatan untuk bisa mengeksplorasi tiap sudut Yogyakarta, bisa bertemu dengan teman sejawat, hingga merasakan lingkungan KKN yang supportif.

Secara khusus, Irsyad juga sangat mengapresiasi komitmen FISIPOL UGM yang kian ramah terhadap mahasiswa disabilitas melalui penyediaan fasilitas fisik yang inklusif.
“Fasilitas yang mendukung disabilitas di FISIPOL (sekarang) sudah sangat jauh berkembang dari awal sejak saya masuk dulu. Sekarang sudah mulai ditambahkan guiding block terus sudah mulai ada ramp itu mempermudahkan mobilitas teman-teman netra dan teman-teman pengguna kursi roda ” ujar Irsyad.
Kehadiran akses ramp (bidang miring) untuk pengguna kursi roda, guiding block, hingga fitur voice announcement pada fasilitas lift fakultas telah memberikan rasa aman dan nyaman baginya. Tak hanya fasilitas fisik, adaptasi literatur perpustakaan ke dalam format digital melalui Digilib FISIPOL juga menjadi terobosan inovatif yang sangat mempermudah proses belajarnya sehari-hari.
Irsyad memberikan dukungan bagi pengembangan kampus berkelanjutan dengan menitipkan harapan agar ekosistem inklusif FISIPOL dapat terus disempurnakan. Ke depannya, ia berharap fasilitas guiding block bisa semakin diperluas pemerataannya hingga ke bagian dalam gedung, serta adanya inovasi penambahan tombol fisik pada lift guna melengkapi panel sentuh yang sudah ada. Lebih jauh, ia juga berharap adanya akomodasi kebutuhan pembelajaran dan ujian bagi mahasiswa disabilitas supaya dapat semakin terintegrasi secara otomatis ke dalam sistem akademik fakultas, sehingga kegiatan belajar mengajar berjalan semakin presisi.
Kini, Irsyad bersiap melangkah ke dunia profesional dan menyimpan cita-cita untuk melanjutkan studi ke jenjang S2. Untuk rekan-rekan mahasiswa yang masih berjuang merampungkan studi, ia membagikan pesan yang menghangatkan hati:
“Cepat atau lambatnya proses kita itu tidak apa-apa. Tetap bertahan dan lakukan apa yang bisa dilakukan. Dengan modal harapan dan keyakinan, semua akan berhasil dan selesai pada waktunya”.