Yogyakarta, 13 Juni 2026─Sebagai bentuk komitmen nyata institusi dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman, inklusif, dan nirkekerasan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada melalui FISIPOL Crisis Center (FCC) telah sukses menyelenggarakan workshop bertajuk “Harmoni Warna, Pulih Bersama”. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (5/6) lalu di ruang BA 113 FISIPOL UGM ini, secara khusus dihadirkan sebagai ruang aman bagi mahasiswa penyintas kekerasan untuk mengekspresikan diri dan mendukung proses pemulihan.
Kehadiran workshop dilatarbelakangi oleh inisiatif untuk memperkenalkan sekaligus memfasilitasi kegiatan pemulihan yang konkret bagi penyintas kekerasan. Melalui pendekatan seni lukis, kegiatan ini bertujuan menyediakan wadah ekspresi kreatif yang secara efektif mampu menunjang proses penyembuhan, sekaligus memberikan pengalaman terapeutik yang mendalam bagi mereka yang mungkin kesulitan mengutarakan traumanya melalui kata-kata.

Acara ini diawali dengan pemaparan materi oleh Pradita Artha Incentia, M.Psi., Psikolog mengenai manfaat terapeutik dari melukis dan dilanjutkan pembagian peserta kedalam tiga kelompok kemudian melukis pada media yang telah disediakan beserta dengan peralatan lengkap untuk menuangkan emosi dan perasaan mereka secara bebas. Tak hanya melukis, peserta juga diperkenankan untuk saling berbagi cerita yang didampingi secara langsung oleh tiga orang psikolog profesional dari Career Development Center (CDC) dan FCC Fisipol UGM. Pendampingan oleh tenaga ahli ini memastikan setiap emosi yang muncul dapat diwadahi dengan tepat, sehingga mampu membangun rasa saling percaya, rasa aman, serta menumbuhkan solidaritas di antara para peserta.
Fakultas tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga menaruh perhatian penuh pada kesejahteraan mental dan psikologis sivitas akademikanya. Melalui peran aktif FISIPOL Crisis Center, fakultas berupaya keras menghadirkan sistem dukungan kelembagaan yang tangguh untuk merespons, mencegah segala bentuk kekerasan di lingkungan kampus, serta mendorong terciptanya institusi inklusif.
Ke depannya, “Harmoni Warna, Pulih Bersama” diharapkan dapat menjadi pemantik bagi lahirnya inisiatif-inisiatif serupa. Pada akhirnya, menghadirkan wadah ekspresi bagi penyintas kekerasan adalah bagian dari upaya mendasar untuk memastikan terjaminnya hak atas kehidupan yang sehat secara mental dan lingkungan yang inklusif tanpa diskriminasi.