Yogyakarta, 24 Juni 2026—Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (FISIPOL UGM) menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Tinpots and Technocrats? Market Reforms and the Politics of Personal Rule”.
Kegiatan ini menghadirkan Professor Benjamin Smith dari University of Florida sebagai pembicara utama. Professor Smith merupakan pakar di bidang politik komparatif dan ekonomi politik yang dikenal dengan penelitiannya mengenai kekayaan sumber daya alam, konflik etnis, serta rezim dan perubahan rezim di negara berkembang.
Dalam pemaparannya, Smith mendefinisikan dua istilah kunci dalam judul risetnya. Ia menyebut “tinpots” merujuk pada diktator personalis yang bertindak berdasarkan kehendak pribadi, sementara “technocrats” adalah para spesialis kebijakan ekonomi yang mendorong keputusan berbasis keahlian. Ia juga menyoroti bahwa kejatuhan Soeharto pada Mei 1998 tidak semata-mata dipicu oleh demonstrasi massa, melainkan justru oleh pencabutan dukungan dari anggota koalisi pemerintahannya sendiri—sebuah fakta yang menjadi titik sentral dari proyek penelitian yang ia garap bersama rekan-rekannya.
Smith memaparkan bahwa riset mereka menggabungkan metode kualitatif melalui penelusuran proses sejarah Indonesia dari tahun 1978 hingga 1999, serta metode kuantitatif lintas negara yang menguji temuan dari kasus Indonesia terhadap seluruh rezim otoriter di dunia antara tahun 1971 hingga 2010. Proyek ini pun dikerjakannya secara kolaboratif bersama peneliti asal Indonesia, Yudhi Zahrapadi.
Dari riset statistik tersebut, Smith menyampaikan temuan sentral yang membantah asumsi umum bahwa reformasi ekonomi selalu memperkuat stabilitas rezim otoriter. Ia justru menemukan bahwa kombinasi antara krisis ekonomi, keterbukaan ekonomi, dan rezim otoriter personal hybrid menciptakan kerentanan terbesar.”Dengan kata lain, rezim diktator hibrida yang telah menerapkan reformasi ekonomi lebih rentan terhadap krisis ekonomi dibandingkan jenis rezim diktator lainnya. Itulah kesimpulan umum yang kami temukan dalam hasil penelitian ini,” tegasnya.
Kehadiran Professor Smith diharapkan mampu memantik diskusi kritis serta memperkaya pemahaman peserta mengenai kompleksitas relasi antara kebijakan ekonomi dan struktur kekuasaan di berbagai negara.