Bawa Gagasan Tata Kelola Akal Imitasi (AI) Berkeadilan, Mahasiswa FISIPOL UGM Wakili Indonesia di Ajang Raisina IE-Global Student Challenge 2026

Yogyakarta, 7 Mei 2026─Ernani Dewi Kusumawati, mahasiswa program studi doktoral Ilmu Hubungan Internasional FISIPOL UGM berhasil menorehkan prestasi membanggakan di kancah global. Bergabung dengan Departemen Ilmu Hubungan Internasional pada tahun 2024 sebagai mahasiswa S3 dengan konsentrasi Digital Transformation and Competitiveness (DTC) membawanya menjadi satu-satunya delegasi Indonesia dalam ajang Raisina IE-Global Student Challenge 2026 yang digelar di New Delhi, India pada Maret 2026.

Kompetisi ini merupakan bagian dari forum internasional Raisina Dialogue, sebuah wadah pertemuan strategis yang menghadirkan para pemimpin dunia, pejabat negara, akademisi, hingga praktisi guna membedah isu-isu geopolitik dan geoekonomi. Ernani bercerita sempat muncul keraguan dalam dirinya karena latar belakang pendidikan sarjananya berasal dari keilmuan farmasi. Kendati demikian, keraguan tersebut justru bertransformasi menjadi dorongan kuat ketika ia menyelami esensi dari acara tersebut. Pendekatan lintas disiplin dinilainya sebagai kunci.

“Saya percaya bahwa mengintegrasikan berbagai latar belakang keilmuan akan menjadi solusi masa depan untuk memahami sekaligus menjembatani kompleksitas berbagai isu global,” ungkap Ernani.

Perjalanan dalam program ini diawali dengan fase kolaborasi daring sejak Januari hingga Februari 2026. Sebanyak 86 delegasi terpilih dari berbagai belahan dunia dilebur ke dalam 12 tim internasional. Ernani tergabung bersama rekan-rekan dari Kanada, India, Yordania, Polandia, dan Etiopia, di bawah arahan pembimbing akademik dari São Paulo School of Business Administration (FGV EAESP), Brazil. Tim ini menggagas tema “AI for Civilian Use” guna merumuskan keadilan pemanfaatan kecerdasan buatan bagi negara-negara Global South.

Dinamika kerja sama lintas benua ini menghadirkan tantangan tersendiri. Perbedaan zona waktu mengharuskan Ernani kerap mengikuti diskusi hingga larut malam, terlebih saat itu bertepatan dengan momen ibadah bulan Ramadan. Penyatuan beragam perspektif keilmuan juga menuntut intensitas diskusi yang tinggi, bahkan nyaris setiap hari menjelang tenggat waktu pengumpulan proposal.

Kerja keras tersebut terbayar tuntas. Pada 4 Maret 2026, Ernani bertolak ke India secara gratis karena biaya ditanggung sepenuhnya oleh Observer Research Foundation (ORF), IE School of Politics, Economics & Global Affairs (SPEGA), serta Kementerian Luar Negeri India. Pada puncak acara, ia mempresentasikan hasil pemikirannya secara langsung di hadapan panelis internasional, termasuk mantan Perdana Menteri Swedia Stefan Löfven, Vina Nadjibulla (Asia Pacific Foundation of Canada), Gautam Chikermane (ORF), dan Suzannah Jessep (Asia New Zealand Foundation).

Tim Ernani menawarkan kerangka triad governance approach yang memosisikan sektor pendidikan, kesehatan, dan pertanian sebagai fondasi pembangunan ekonomi berkelanjutan di Global South. Pendekatan ini diturunkan menjadi enam intervensi kebijakan yang menitikberatkan pada penguatan tata kelola data, pembangunan kapasitas lokal, serta pentingnya asesmen sebelum dan sesudah implementasi AI. Gagasan ini sukses menarik perhatian Stefan Löfven karena muatan inklusivitasnya yang kuat.

Bagi Ernani, beradu argumen di panggung global dan bertukar wawasan dengan talenta terbaik dunia merupakan sebuah refleksi pendewasaan yang luar biasa. Kiprah akademis ini merepresentasikan langkah nyata sivitas akademika UGM dalam merawat kemitraan global untuk mencapai tujuan bersama. Kolaborasi lintas batas yang terjalin selama program ini menjadi bukti bahwa sinergi dan pertukaran pengetahuan antarnegara sangat krusial guna merumuskan kebijakan yang responsif, adaptif, dan inklusif demi menjawab berbagai tantangan dunia di masa mendatang.