Yogyakarta, 3 Juni 2026—Ajang Insan Kreatif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (Ajisaka) 2026 mengawali rangkaian acaranya dengan menggelar Diskusi Komunikasi bertajuk jurnalisme dan perfilman di FISIPOL UGM, Rabu (3/6/2026). Diskusi ini menyoroti peran media alternatif sebagai alat advokasi dan menyuarakan kepentingan publik, terutama di tengah gonjang-ganjing media massa tradisional.
Menghadirkan dua narasumber, yaitu sutradara sekaligus alumni Ilmu Komunikasi UGM, Luhki Herwanayogi, serta penulis dan jurnalis lepas, Titah AW, acara tersebut tidak hanya membahas peluang karier di bidang jurnalisme dan perfilman, tetapi juga menekankan pentingnya memanfaatkan bentuk-bentuk baru media untuk bersuara.
Dalam pemaparannya, Titah AW menyoroti optimisme di tengah krisis media tradisional. Ia menegaskan bahwa meskipun media massa nasional sedang mengalami masa sulit, justru di situlah muncul peluang bagi media alternatif. “Jadi bentuk penyampaian pesan itu, semakin beragam. Yang mana itu untukku hal yang membuatku optimis. Bahwa mungkin media masa tradisional lagi gonjang-ganjing, cuman dibalik hal itu pasti kok ada bentuk-bentuk baru,” ujarnya.
Lebih lanjut, Titah mendorong mahasiswa untuk memulai langkah advokasi dari lingkungan terdekat. Menurutnya, kampus menjadi titik awal yang ideal untuk melahirkan karya jurnalistik berbasis keresahan nyata. “Berawal dari kampus, mungkin dari teman-teman bisa mulai kalau misalnya ada ketertarikan atau punya fokus pada jurnalistik, itu bisa dimulai dari keresahan yang teman-teman alami di lingkungan sekitar,” pesannya.

Pernyataan tersebut sejalan dengan semangat Ajisaka yang selama ini membuka ruang bagi ide kreatif dan karya bermakna dari berbagai penjuru Indonesia. Sementara itu, narasumber lainnya, Luhki Herwanayogi, turut menekankan bahwa film dan konten independen dapat menjadi medium advokasi yang kuat bagi isu-isu yang kerap terabaikan.
Diskusi ini juga membahas pentingnya kemitraan masyarakat sipil dalam mempromosikan pendidikan dan kesadaran tentang isu-isu sosial yang mendesak. Kedua narasumber sepakat bahwa kolaborasi antara mahasiswa, praktisi media, dan organisasi masyarakat sipil sangat penting untuk menciptakan narasi yang berdampak dan beresonansi dengan publik.
Sebagai kesimpulan, Diskusi Komunikasi Ajisaka 2026 berfungsi sebagai platform penting bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi potensi media alternatif dalam mengadvokasi isu-isu sosial. Dengan memanfaatkan kekuatan jurnalisme dan perfilman, mahasiswa didorong untuk menjadi peserta aktif dalam membentuk narasi komunitas mereka.