Yogyakarta, 19 Mei 2026—Social Movement Institute (SMI) bersama dengan POLGOV Fisipol UGM mengadakan konferensi sebagai ruang untuk menyatukan kekuatan, menjaring inisiatif, dan membangun politik anak muda yang berani, kreatif, militan dan imajinatif.
Di tengah kebuntuan politik, dominasi kekuasaan, penguatan militer, dan penangkapan terhadap 6.000 lebih anak muda, acara ini menaruh perhatian khusus dalam memantik kesadaran politik anak muda dalam mewujudkan perubahan.
Prof. Amalinda Savirani, sebagai salah satu pembicara, menekankan pentingnya realisasi perubahan melalui komunitas yang kita miliki. “Kembalilah pada komunitas, organisir diri, dan terus-menerus menyambungkan satu titik dengan titik yang lain, dengan cara itu semoga perubahan yang diharapkan bisa terjadi,” ujarnya.
Selain itu, Tiyo Ardianto menekankan bahwa kesadaran bersama adalah syarat untuk mencapai perubahan yang bermakna. “Setiap perlawanan anak muda, itu tidak akan mampu dimenangkan kecuali dengan kesadaran. Tidak akan mampu dimenangkan tanpa dengan perhimpunan,” tegasnya. Seruannya untuk bersatu di antara anak muda menekankan pentingnya kolaborasi di tengah kesulitan.
Pembicara lain, seperti Dimas Bagus Arya menggambarkan militerisme dan tekanan yang dihadapi oleh gerakan masyarakat sipil. Ia menekankan perlunya keberanian untuk melawan rasa takut. Di samping itu, Robertus Robet, menjelaskan mengenai konsep subjek dan emansipasi militan, mendorong anak muda untuk memahami peran mereka dalam lanskap politik.
Konferensi ini juga berfungsi sebagai platform untuk menjalin jaringan di antara aktivis muda, membangun kemitraan masyarakat sipil yang penting untuk penguatan kapasitas. Peserta terlibat dalam diskusi tentang strategi untuk memobilisasi komunitas mereka dan memperjuangkan pendidikan dasar serta hak-hak bagi kelompok yang terpinggirkan.
Sesi-sesi ini dirancang untuk memberdayakan anak muda dengan alat yang diperlukan untuk mewujudkan perubahan di komunitas mereka, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang menekankan pendidikan, kesetaraan, dan kemitraan.
Suasana acara dipenuhi semangat dan tekad, saat anak muda dari berbagai latar belakang berkumpul untuk berbagi visi mereka untuk masa depan yang lebih baik. Konferensi ini tidak hanya menyoroti tantangan yang dihadapi oleh anak muda tetapi juga merayakan potensi mereka untuk mendorong perubahan melalui aksi kolektif.
Sebagai kesimpulan, konferensi yang diselenggarakan oleh POLGOV Fisipol UGM dan SMI merupakan momen penting bagi keterlibatan politik anak muda di Indonesia. Dengan memfasilitasi kesadaran, membangun kapasitas, dan mendorong kemitraan masyarakat sipil, acara ini bertujuan untuk memberdayakan anak muda agar mengambil peran aktif dalam membentuk lanskap politik mereka dan memperjuangkan hak-hak mereka.