Hijaukan Miniatur Hutan di Tengah Transformasi Lahan: Bala Gadjah Mada dan Siswa SMPN 27 PPU Lakukan Restorasi Ekologis

Yogyakarta, 8 Maret—Bala Gadjah Mada FISIPOL UGM merestorasi Miniatur Hutan Hujan Tropis IKN dengan menanam 100 pohon endemik Kalimantan bersama siswa SMPN 27 Penajam Paser Utara pada 8 Februari 2026.

Lahan yang kini menjadi Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN ini sebelumnya merupakan kawasan konsesi hutan industri yang ditumbuhi monokultur Eucalyptus. Tanaman ini memiliki siklus tebang singkat—enam sampai tujuh tahun—dan diperuntukkan bagi industri kertas.

Kawasan ini dibangun sebagai upaya pemerintah dalam memperbaiki kualitas lingkungan hutan. Salah satunya, dengan mengganti tanaman industri tersebut menjadi hutan yang heterogen melalui penanaman pohon-pohon endemik Kalimantan. Bekerja sama dengan Deputi Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (DLHSDA) Otorita IKN, mereka memberikan dukungan teknis serta bimbingan mengenai jenis pohon yang sesuai untuk restorasi lahan. 

Sebagai perwujudan upaya reforestasi IKN, Tim Bala Gadjah Mada bersama dengan SMPN 27 PPU dan Pemuda Peduli Lingkungan Asri dan Bersih (Pepelingasih), menanam 100 bibit pohon meranti di kawasan Miniatur Hutan Hujan Tropis IKN. Kholifa Tata Suharta, salah satu anggota Tim Bala Gadjah Mada, mengungkapkan, “Pohon-pohon endemik Kalimantan, jarang yang bisa tumbuh langsung dibawah sinar matahari. Jadi butuh tanaman pelindung untuk meneduhi bibit itu (pohon endemik Kalimantan). Kita menanam pohon diantara pohon-pohon yang akan tumbang (Eucalyptus).” Mereka berharap, hutan yang sebelumnya monokultur dapat berubah menjadi hutan sebagai mana mestinya dengan program ini.

Aksi ini tidak hanya sekadar menanam bibit, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi siswa SMPN 27 PPU dan komunitas lokal mengenai peran vital hutan hujan tropis dalam menjaga iklim. Selain itu, Tim Bala Gadjah Mada juga bekerja sama dengan Pepelingasih untuk menghubungkan mereka ke masyarakat lokal, akses, dan juga berbagi local wisdom. Kedepan, mereka akan menjalin kerja sama dalam monitoring program restorasi ekologi ini setelah kepulangan Tim Bala Gadjah Mada. 

Pembangunan IKN bukan sekedar bangunan fisik saja, tetapi juga tentang keberlanjutan dari kota tersebut. Kholifa, menyebutkan bahwa Jakarta hanya bisa bertahan selama 400 tahun saja. Harapannya, dengan langkah-langkah nyata untuk restorasi ekologi ini dapat membuat IKN jauh lebih sustainable dan bertahan lebih lama dibandingkan Jakarta.

Sebagai kesimpulan, restorasi Miniatur Hutan Hujan Tropis di IKN merupakan langkah signifikan menuju penciptaan lingkungan perkotaan yang berkelanjutan. Ini menyoroti pentingnya mengintegrasikan pertimbangan ekologis ke dalam perencanaan dan pengembangan perkotaan, memastikan bahwa generasi mendatang mewarisi planet yang lebih sehat.