Yogyakarta, 20 April 2026─Program Visiting Scholar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM) telah sampai pada penghujung acara. Selama hampir satu bulan (30 Maret – 21 April 2026) program ini telah melaksanakan berbagai rangkaian acara mulai dari public lecture, master class bertajuk “Melawat ke Asia”, workshop mahasiswa doktoral dengan tema “Comparative Southeast Asia”, workshop metodologi “Doing Field Research in Southeast Asia”, serta seminar bertajuk “Napak Tilas Alm. Ben Anderson di Bangkok” sebagai pemungkas.
Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja sama, dan Alumni, Fina Itriyati, Ph.D menekankan urgensi dari agenda hari ini bagi generasi peneliti selanjutnya dalam sambutannya. “Mahasiswa yang masih muda saya rasa penting untuk mengenal Ben Anderson secara detail dan kira-kira nanti bagaimana pemikiran Pak Budi ini mengupas pemikiran Ben ini seperti apa, terutama dikaitkan dengan perkembangan sosial politik di Indonesia pada hari ini,” pesannya.
Seminar ini menjadi ruang dialog yang reflektif bagi sivitas akademika untuk mengenang sekaligus mendalami jejak pemikiran mendiang Benedict Richard O’Gorman Anderson, salah satu pakar ilmu politik terkemuka, selama masa hidupnya di Bangkok. Melalui pemaparannya, Dr. Budi mengajak para peserta untuk menelusuri kembali warisan intelektual tersebut guna memperkaya perspektif kajian politik di kawasan Asia Tenggara.

Dalam ceritanya, Dr. Budi memberikan gambaran bagaimana institusi luar seperti Thammasat University, Thailand, telah mempraktikkan metode pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) dalam studi kawasan pada akhir tahun lalu melalui sebuah program study tour bertajuk “Footprint of Ben Anderson in Bali and East Java”. Dengan turun langsung ke lapangan, menyusuri rute yang sama, dan mengamati lanskap sosiopolitik secara keruangan (spasial), para pelajar dapat merasakan langsung konteks historis yang membentuk pemikiran seorang tokoh.
Melihat efektivitas metode pembelajaran tersebut, Dr. Budi menyatakan dukungannya pada fakultas apabila ingin mengembangkan program serupa di masa depan. “Untuk menutup cerita ini, saya menawarkan gagasan study tour napak tilas Ben Anderson di Bangkok. Saya bersedia menjadi pemandunya, untuk memperdalam kajian Asia Tenggara,” tutur Dr. Budi mengakhiri sesi pertama. Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi antara peserta dan Dr. Budi.
Beberapa dari peserta berbagi pengalaman penelitian serupa dengan apa yang telah dipaparkan sebelumnya, hingga menyampaikan keresahannya terhadap kondisi sosial-politik di Indonesia saat ini dan ingin mendengar perspektif Dr. Budi. Komunikasi dua arah dalam lingkungan akademik ini menjadi bentuk komitmen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik untuk terus menciptakan ruang diskusi yang inklusif dan pendidikan yang berkualitas.