Yogyakarta, 5 Maret 2026─Tim Bala Gadjah Mada Fisipol UGM sukses merampungkan kegiatan ekspedisi, proyek sosial, dan riset selama 14 hari di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Tim terdiri dari 12 mahasiswa dari lima program studi yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKMF) Kelompok Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup (KPALH) Setrajana Fisipol UGM.
Kegiatan bertajuk Misi Konservasi Lingkungan ini berlangsung mulai dari tanggal 26 Januari hingga 10 Februari 2026 dan berfokus pada pemetaan tata kelola lingkungan, secara khusus mengenai manajemen pengelolaan sampah, serta pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan di wilayah penyangga IKN, meliputi Desa Bumi Harapan, Kelurahan Pemaluan, dan SMPN 27 Penajam Paser Utara (PPU).

Ahmad Hafiqz, mewakili tim, mengungkapkan temuan krisis sampah yang signifikan di lapangan, secara khusus di wilayah Desa Bumi Harapan. Lonjakan pendatang dari luar pulau dan masifnya aktivitas proyek disebutkan menjadi salah satu latar belakang timbunan sampah. Volume yang masif mengakibatkan fasilitas penampungan tidak dapat mengakomodasi sampah yang masuk. Alhasil, pengelolaan sampah menjadi salah satu urgensi yang perlu ditindaklanjuti. Adapun demikian, Shaffan Zaky dari Divisi Riset menyampaikan bahwa pemerintah di wilayah tidak dapat melakukan sembarang intervensi.
“Terkait fasilitas penampungan, pemerintah desa belum siap untuk tanahnya, sehingga dari masyarakat pun juga kebingungan sampah mau dibuang ke mana kalau misalnya sudah penuh. Dan dari pemerintah desa pun juga bingung, karena dari pemerintah sudah tidak punya tanah lagi. Nah, akhirnya muncullah opsi untuk dilimpahkan ke OIKN, namun OIKN juga tidak bisa melakukan intervensi, karena takut itu ditinggalkan sebagai kasus yang bisa dikenakan oleh KPK,” jelasnya ketika memaparkan laporan bersama tim dekanat, Kamis (5/3).
Selain itu, Tim Bala Gadjah Mada juga menyoroti krisis akses air bersih di Kelurahan Pemaluan akibat kondisi geografis wilayah. Sumber air yang berasal dari sumur tradisional mayoritas keruh dan berbau. Masyarakat lokal terpaksa membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan harian mereka.

Tim Bala Gadjah Mada juga menginisiasi sejumlah program, antara lain program pembuatan Bank Sampang Berdaya serta pelatihan pengelolaan sampah yang secara khusus menyasar warga lokal, dan melibatkan perangkat desa dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Penajam Paser Utara. Selain itu, tim juga berkolaborasi dengan SMPN 27 Penajam Paser Utara dalam sejumlah program. Yang pertama, melakukan inisiasi agen Adiwiyata sebagai motor penggerak lingkungan di sekolah, serta melakukan penanaman bibit pohon di Kawasan Miniatur Hutan Hujan Tropis IKN bersama para siswa sebagai langkah simbolis menjaga kelestarian ekosistem hutan Kalimantan.
“Dari hasil riset dan ekspedisi yang kami lakukan, kami juga membuat semacam policy brief dan akan didiseminasikan sekitar bulan April. Policy brief tersebut kami batasi isu sampah sebagai isu primer dan isu air sebagai isu sekunder,” ujar Shaffan.
Ia berharap policy brief ini nantinya dapat menjadi rekomendasi strategis bagi pemerintah dalam mengatasi persoalan sampah dan air bersih di lingkungan IKN. Komitmen ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan.