Yogyakarta, 11 Agustus 2026—Serikat Pekerja Universitas Gadjah Mada (SEJAGAD) mengadakan bedah visi misi terhadap 4 calon Dekan FISIPOL UGM mengenai masalah Kesejahteraan dan beban kerja dari dosen serta tenaga kependidikan di Auditorium.
Hasil survei Serikat Pekerja Universitas Gadjah Mada (SEJAGAD) pada Tahun 2025 menunjukkan bahwa pendapatan dosen dan tendik masih banyak dikontribusikan oleh oleh pendapatan tidak teratur. Selain itu, sebagian besar dosen dan tenaga kependidikan bekerja lebih dari 8 jam. Di samping itu, lebih dari setengah dosen merasakan adanya gangguan fisik dan psikis.
Berangkat dari temuan tersebut, empat kandidat diminta memaparkan program unggulan mereka untuk menjawab persoalan struktural yang selama ini membayangi kesejahteraan sivitas akademika.
Arie Ruhyanto, kandidat dari Departemen Politik dan Pemerintahan, menyoroti ketidakselarasan antara jenis layanan dengan skema kepegawaian. Menurutnya, perlu adanya standar minimum kesejahteraan yang disesuaikan dengan beban kerja serta mendesak adanya regulasi khusus bagi peneliti di tingkat universitas maupun nasional.
“Harus ada minimum standar basis kesejahteraannya yang ada dulu, baru kemudian yang varian baru itu akan disesuaikan dengan kapasitas fiskal masing-masing dan tentu saja varian baru itu juga disesuaikan dengan load kerja teman-teman.”
Sementara itu, Fina Itriyati dari Departemen Sosiologi mengangkat isu care economy. Ia mengusulkan jaminan pendapatan tetap bagi dosen perempuan yang menjalani cuti melahirkan, penyediaan ruang laktasi dan toilet universal.
“Saya mengusulkan supaya insentif yang fix itu tetap diterapkan seandainya mereka cuti dari setelah melahirkan,” ujar Fina.
“Ruang laktasi itu penting sebagai safe zone-nya para ibu untuk bisa menyusui dengan baik, termasuk penyediaan toilet-toilet universal untuk penyandang disabilitas.”
Bahruddin dari Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan menekankan pendekatannya pada pentingnya forum kolegial dalam menentukan kenaikan standar honorarium. Ia juga mengusulkan alokasi anggaran untuk ekonomi kreatif di tingkat fakultas.
“Mari kita rumuskan kapasitas penaikan ini secara bersama-sama. Dekanat, senat, departemen duduk bareng untuk memutuskan seberapa besar kita bisa menawarkan penghargaan terbaik untuk orang-orang terbaik di FISIPOL,” jelas Bahruddin.
“FISIPOL akan mengalokasikan RKAT untuk siapapun yang punya inisiatif untuk creative economy. Kesempatan itu harus kita cari, harus kita kejar.”
Di sisi lain, Prof. Gabriel Lele dari Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik menawarkan program terukur dengan menyebutkan angka spesifik. Ia menargetkan kenaikan pendapatan tenaga kependidikan hingga 1,5 kali lipat dan dosen minimal 3 kali gaji pokok, seraya merevisi standar honorarium. Gabriel juga mengusulkan seed funding untuk menyusun bank proposal yang didanai oleh lembaga.
“Untuk tenaga kependidikan bisa kita naikkan sampai satu setengah kali lipat dari yang saat ini diterima itu masih memungkinkan. Lalu kalau kita bisa pastikan masing-masing dosen bisa dapatkan minimal penghasilan tiga kali gaji pokok, masih sangat feasible untuk dilakukan,” papar Gabriel.
“Standar itu harus direvisi. Saya akan mengalokasikan seed funding. Masing-masing departemen harus menggunakan seed funding itu untuk menyusun bank proposal. Biaya-biaya inisiasi jangan diletakkan pada individu dan perlu diambil alih oleh lembaga.”