Fisipol Free Breakfast: Dari Sarapan Ujian Menjadi Inisiatif Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Yogyakarta, 15 Oktober 2026─Program Fisipol Free Breakfast yang digagas Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (Fisipol UGM) sejak 2017 kini tidak lagi sekadar sarapan gratis bagi mahasiswa yang menghadapi ujian. 

Dalam perjalanannya selama hampir satu dekade, program ini telah bertransformasi menjadi salah satu wujud nyata kontribusi fakultas terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan (Zero Hunger).

Gagasan awal program ini muncul dari laporan mengenai mahasiswa yang jatuh pingsan saat ujian akibat tidak sarapan. Dalam Rapat Pimpinan Fakultas tahun 2017, Dekan Fisipol UGM saat itu, Prof. Erwan Agus Purwanto, berinisiatif menyediakan sarapan gratis bagi mahasiswa yang sedang menempuh ujian. Sejak saat itu, Fisipol Free Breakfast diselenggarakan secara rutin setiap masa Ujian Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester.

Seiring berjalannya waktu, makna program ini bergeser dari sekadar bantuan praktis menjadi instrumen kebijakan yang selaras dengan agenda pembangunan global. Fisipol UGM secara eksplisit menyatakan bahwa dengan menyediakan sarapan gratis, fakultas secara aktif berkontribusi pada pengurangan ketahanan pangan di kalangan mahasiswa, yang merupakan hambatan signifikan bagi keberhasilan akademis. Hal ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan untuk memastikan sistem pangan yang berkelanjutan, mempromosikan pola makan yang sehat, dan meningkatkan produktivitas dalam pendidikan.

Dalam rilis resminya, Fisipol UGM menegaskan bahwa program Free Breakfast tidak hanya mendukung SDG 2 tentang Tanpa Kelaparan, tetapi juga SDG 3 tentang Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik. Bahkan, dalam beberapa dokumentasi, program ini turut dikaitkan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, karena kontribusinya terhadap keberhasilan akademis mahasiswa.

Pada pelaksanaan UTS Ganjil 2026/2027, program ini masih berjalan dengan antusiasme tinggi. Salah seorang mahasiswa Departemen Politik dan Pemerintahan, Farras, mengaku terbantu dengan adanya program ini. “Menurut aku, sarapan gratis di kampus ngebantu banget buat mahasiswa yang kuliahnya pagi dan kadang belum sempat atau belum kepikiran buat sarapan. Aku sendiri pernah ngambil dan makan sarapan gratis ini, dan rasanya cukup bermanfaat karena jadi lebih fokus pas ngikutin kelas sekaligus menghemat pengeluaran juga. Harapannya sih program kayak gini bisa terus ada dan makin rutin, soalnya ini hal kecil tapi dampaknya terasa langsung buat mahasiswa,” ujarnya.

Dengan hampir satu dekade penyelenggaraan, Fisipol Free Breakfast tidak hanya menjadi rutinitas semesteran, tetapi telah menjadi bagian dari identitas Fisipol UGM sebagai fakultas yang peduli terhadap kesejahteraan mahasiswanya. Keberlanjutan program ini menunjukkan bahwa apa yang dimulai sebagai respons terhadap kejadian darurat telah berkembang menjadi kebijakan yang berdampak jangka panjang, tidak hanya bagi mahasiswa Fisipol UGM, tetapi juga bagi upaya kolektif mewujudkan ketahanan pangan dan gizi yang lebih baik di lingkungan pendidikan tinggi.