Yogyakarta, 26 September 2026—Departemen Politik dan Pemerintahan (DPP) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menyelenggarakan acara tahunan “Hajatan Depolpe 2026”. Mengusung semangat “Zona Nyaman Kangen Kangenan”, acara ini menjadi wadah strategis bagi para alumni untuk membagi ilmu lintas profesi dan lintas ilmu kepada mahasiswa serta keluarga besar DPP UGM.
Melalui rangkaian utama bertajuk “Ngobrol Bareng Alumni (NGoBRAL)”, Hajatan Depolpe 2026 menghadirkan diskusi yang menjembatani dunia akademis dengan realitas dunia kerja. Melalui Ngobral ini, alumni dapat mentransfer pengalaman praktis dari berbagai latar belakang profesi untuk memperkaya wawasan mahasiswa, sekaligus membuktikan bahwa lulusan ilmu politik dan pemerintahan mampu berkiprah di berbagai sektor yaitu bisnis, media, pemerintahan, masyarakat sipil, dan politik.

Ari Dwipayana, selaku Ketua Departemen Politik dan Pemerintahan, menegaskan bahwa Hajatan Depolpe bukan sekadar ajang bernostalgia. Ia menekankan pentingnya merawat akar tempat para alumni pernah tumbuh bersama.
“Kita boleh tumbuh jauh. Kita boleh memiliki jalan kehidupan yang berbeda-beda. Kita boleh menjadi pohon baru di tempat masing-masing. Tetapi satu hal jangan pernah kita lupakan dari mana akar kita berasal. Karena pohon yang besar membutuhkan akar yang kuat. Karena itu, Hajatan Depolpe bukan hanya kesempatan untuk bernostalgia. Hajatan ini adalah kesempatan untuk menyambung kembali akar dimana kita pernah tumbuh bersama,” ujarnya.
Pernyataan itu menjadi benang merah seluruh rangkaian NGoBRAL. Para alumni yang telah berkarier di berbagai bidang kembali ke kampus bukan hanya untuk mengenang masa kuliah, tetapi untuk mentransfer pengetahuan, pengalaman, dan perspektif dari dunia kerja kepada generasi berikutnya. Dari akar keilmuan yang sama, mereka tumbuh ke cabang profesi yang berbeda, lalu kembali membagikan ilmu kepada DPP.
Dalam ranah bisnis dan konsultasi, para alumni berbagi wawasan mengenai strategi pengembangan kapabilitas komersial, dinamika industri konsultasi global, hingga perumusan kebijakan publik di sektor teknologi. Diskusi ini menyoroti bagaimana pemahaman politik dan pemerintahan sangat krusial dalam pengambilan keputusan bisnis dan analisis kebijakan di perusahaan multinasional.
Di ranah media, alumni yang berkecimpung sebagai pemimpin redaksi, pendiri platform digital, dan jurnalis senior membagikan ilmu mengenai lanskap media yang terus berubah. Diskusi berfokus pada tantangan jurnalisme di era digital, strategi membangun jejaring, serta bagaimana media menjadi pilar penting dalam demokrasi.
Sesi diskusi mengenai sistem pemerintahan memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana birokrasi, intelijen, dan penyelenggaraan pemilu bekerja dari dalam. Alumni yang kini menduduki posisi strategis di kementerian, Badan Intelijen Negara, dan lembaga pengawas pemilu berbagi pengalaman tentang perumusan kebijakan ketenagakerjaan serta tantangan menjaga integritas demokrasi.
Tidak hanya seputar kekuasaan formal, ilmu juga dibagikan oleh alumni yang aktif di ruang gerak sosial dan demokrasi. Mereka membahas pentingnya peran organisasi masyarakat sipil, pengawasan pemilu, hingga dinamika sosial keagamaan dalam memperkuat demokrasi di tingkat akar rumput.
Kehadiran para akademisi dari DPP UGM di setiap sesi melengkapi transfer ilmu ini dengan perspektif teoretis. Kolaborasi antara praktisi dan akademisi menciptakan dialektika yang kaya, membuktikan bahwa ilmu politik dan pemerintahan adalah disiplin yang interdisipliner. Melalui Hajatan Depolpe 2026, DPP UGM menegaskan komitmennya untuk terus mencetak lulusan yang adaptif, kritis, dan siap berkontribusi di berbagai ruang profesional.