Yogyakarta, 4 Mei 2026—Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan bersama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada merespons permasalahan kesehatan jiwa di Gunung Kidul.
Wilayah ini merupakan salah satu daerah dengan angka bunuh diri tertinggi di Indonesia yang diperburuk oleh mitos budaya “pulung gantung”. Kemenko PMK menaruh perhatian serius terhadap krisis kesehatan jiwa di Gunungkidul, menyadari perlunya pendekatan komprehensif untuk mengatasi masalah ini. Katiman, Asisten Deputi Riset, Teknologi, dan Kemitraan Industri di Kemenko PMK, menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor dan lintas ilmu dalam masalah ini. “Kami mohon bantuan bapak/ibu di sini untuk memetakan isu-isu di Gunungkidul. Apa faktor tambahan yang perlu kita pertimbangkan? Dari sisi psikologi, kedokteran, pertanian, geografi, dan lainnya. Ini akan menjadi dasar kita ke depan,” ujarnya.
Selain FISIPOL, fakultas lain seperti Psikologi, Pertanian, Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK), serta Geografi juga memberikan perspektif holistik dalam menangani krisis kesehatan jiwa. Upaya kolaboratif ini bertujuan untuk memberdayakan komunitas lokal dengan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu untuk menciptakan solusi yang efektif.
Salah satu pembicara, Rahmat Hidayat, Dekan Fakultas Psikologi, menekankan bahwa depresi yang terjadi di masyarakat mencerminkan masalah struktural yang tidak dibenahi. “Setiap angka bunuh diri, di belakangnya pasti terdapat permasalahan psiko, sosial, ekonomi, kultural yang besar. Sehingga signifikansinya tidak hanya di angka bunuh diri, yang di Gunung Kidul dari tahun ke tahun kecenderungannya sangat tinggi. Tetapi apa yang ada dibalik permasalahan-permasalahan yang mendasari tindakan bunuh diri,” ujarnya.
Selain itu, pembicara dari fakultas lain juga menekankan bahwa permasalahan ini tidak berhenti sebagai masalah individu, tetapi sebagai tantangan struktural kompleks yang memerlukan kerja sama lintas sektor dan lintas ilmu. Kebutuhan akan strategi holistik sangat penting untuk secara efektif mengurangi risiko bencana yang terkait dengan krisis kesehatan jiwa.
Kolaborasi antara Kemenko PMK dan UGM merupakan langkah signifikan menuju pemberdayaan komunitas lokal di Gunungkidul. Dengan mendorong kerja sama di antara berbagai disiplin akademis, inisiatif ini bertujuan untuk mengembangkan strategi holistik yang menangani akar penyebab masalah kesehatan jiwa, bukan hanya mengobati gejalanya.
Acara ini juga menyoroti kesehatan jiwa sebagai komponen penting bagi kesehatan masyarakat secara keseluruhan, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang berfokus pada kesehatan dan kesejahteraan.
Kolaborasi Kemenko PMK dan FISIPOL UGM menandai tonggak penting dalam menangani masalah kesehatan jiwa di Gunungkidul. Melalui pemberdayaan, kerja sama, dan pendekatan holistik, inisiatif ini bertujuan untuk menciptakan solusi berkelanjutan yang pada akhirnya akan mengurangi risiko krisis kesehatan jiwa di wilayah tersebut.