Yogyakarta, 2 Juni 2026—Program Studi S3 Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan kuliah umum untuk membahas buku Understanding Jokowi: Progressive Realism in Indonesian Politics (2014–2024). Acara ini menjadi pembuka dari rangkaian dua hari kolokium pra proposal mahasiswa doktoral ilmu politik UGM.
Kuliah umum ini dihadiri oleh mahasiswa S1, S2, dan S3 dari Departemen Ilmu Politik UGM. Di tengah dominasi peneliti politik dari Australia dan Amerika di Indonesia, acara ini menghadirkan perspektif baru tentang politik Indonesia dari budaya akademik Prancis.
Jean Couteau, sebagai narasumber, adalah seorang intelektual, budayawan, dan pengamat Indonesia asal Prancis yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk memahami masyarakat, budaya, dan dinamika politik Indonesia. Dalam bukunya, Couteau menawarkan pembacaan mendalam terhadap kepemimpinan Presiden Joko Widodo melalui perspektif yang ia sebut sebagai realisme progresif. Ia berupaya memahami politik Indonesia dengan membawa kembali pendekatan historis-struktural dalam analisis kepemimpinan Jokowi dan cara Jokowi untuk memperluas ruang negosiasi terhadap warisan struktural ekonomi-politik Indonesia.
“Jokowi telah berhasil memperluas secara signifikan landasan ekonomi dan membuka jalan ke depan. Dia juga memperluas sistem layanan sosial. Program hilirisasi telah berjalan dengan sukses tetapi kini beresiko mangkrak bila downstreaming tidak diteruskan secara berkesinambungan,” ujarnya. Perspektif kritis ini menyoroti kompleksitas kepemimpinan Jokowi dan tantangan yang masih ada dalam politik Indonesia.
Kehadiran acara ini menjadi penting karena mengisi khazanah bacaan intelektual yang semakin kaya mengenai sosok dan kepemimpinan Joko Widodo. Kuliah umum ini bertujuan untuk memahami salah satu periode paling penting dalam sejarah politik Indonesia pasca-Reformasi. Dengan melibatkan perspektif yang beragam, acara ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam mempromosikan pendidikan berkualitas dan membangun kemitraan global.
Pandangan Couteau mendorong mahasiswa dan akademisi untuk berpikir kritis tentang implikasi kebijakan Jokowi dan konteks sosial-politik yang lebih luas di mana kebijakan tersebut beroperasi. Acara ini juga berfungsi sebagai platform untuk mendorong kolaborasi di antara para akademisi dari negara-negara berkembang, menekankan pentingnya dialog inklusif dalam menghadapi tantangan global.
Sebagai kesimpulan, kuliah umum dan kolokium yang menyusul merupakan langkah signifikan untuk memperkaya lanskap akademik di Indonesia. Dengan mengintegrasikan perspektif internasional, Program S3 Ilmu Politik UGM tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan tetapi juga membangun kemitraan global yang esensial untuk menghadapi kompleksitas isu politik kontemporer.