Panel Pertama AIC 2026 FISIPOL UGM Kupas Etika, Kekuasaan, dan Politik Pengetahuan di Era AI bersama Akademisi University of Melbourne dan UGM

Yogyakarta, 20 Juli 2026—Rangkaian acara The 6th Australia-Indonesia in Conversation (AIC) 2026 yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM) berkolaborasi dengan University of Melbourne berlanjut ke sesi diskusi panel pada hari ini, Senin (20/7) di Auditorium FISIPOL UGM.

Mengusung tema “Governing Intelligence: Ethics, Power, and the Politics of Knowing”, Panel 1 menyoroti urgensi tata kelola kecerdasan buatan (AI) yang kini mulai berbenturan dengan dinamika etika dan kekuasaan. Sesi ini menghadirkan pakar lintas disiplin, yakni Prof. Robert Hassan dan Dr. Silvia Montaña-Niño dari University of Melbourne, serta Prof. Ridi Ferdiana dan Pratiwi Utami, Ph.D. dari Universitas Gadjah Mada. Jalannya diskusi yang dipandu oleh Dr. Indah Surya Wardhani sebagai moderator.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Dr. Wawan Mas’udi merespon masinya penggunaan AI hari ini memiliki tantangan baru,
“Tantangan sesungguhnya kini bukan lagi apakah mesin mampu berpikir. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah masyarakat dapat terus memerintah dengan bijaksana, bertindak secara etis, dan berimajinasi secara kolektif di era di mana kecerdasan tidak lagi menjadi milik eksklusif manusia.” ujar Wawan.

Prof. Robert Hasan membuka sesi panel dengan membawakan materinya mengenai Homo analogicus.

“Fakta bahwa kita berhenti berevolusi secara fisik ketika menjadi manusia modern adalah karena teknologi telah mengambil alih begitu banyak peran, sehingga kita tidak perlu lagi beradaptasi dengan lingkungan kita,” jelasnya.

Diskusi panel ini diharapkan mampu memberikan perspektif kritis bagi civitas akademika, pembuat kebijakan, maupun masyarakat luas yang hadir secara luring maupun daring terkait bagaimana mengelola kecerdasan tak terbatas dengan bijak.