PIONIR Society 2026 Hari Kedua Soroti Isu Keadilan Pendidikan dalam Konsolidasi Aksi

Yogyakarta, 6 Agustus 2026─Rangkaian kegiatan PIONIR Society 2026 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UGM berlanjut pada hari ini (6/8). Memasuki hari kedua pelaksanaannya, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pengenalan lingkungan akademis, tetapi juga mulai menumbuhkan daya kritis para mahasiswa baru. Kegiatan dimulai dengan sesi refleksi di kelas dan dilanjutkan sesi departemen dan himpunan mahasiswa departemen. Mahasiswa baru mendapatkan kesempatan berharga untuk mengenal lebih dalam mengenai program studi mereka masing-masing, budaya akademik yang berlaku, dan lain-lain. Usai mengenal departemen masing-masing, acara dilanjutkan dengan sesi Konsolidasi Aksi dengan tema “Keadilan Pendidikan dalam Ketidakpastian” yang diselenggarakan di area Selasar Barat.  

Dalam sesi konsolidasi aksi ini, para mahasiswa baru dikenalkan dengan alur pengawalan isu dan diajak untuk mengkaji serta membedah isu ketimpangan dalam dunia pendidikan secara mendalam. Kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi mahasiswa untuk menyatukan gagasan, merumuskan poin-poin tuntutan, serta mematangkan persiapan barisan sebelum mereka turun langsung untuk menyuarakan aspirasi. Setelah sesi konsolidasi selesai, mahasiswa melakukan Kreasi Propaganda, dilanjutkan dengan Aksi turun ke jalan di Jalan Sosio Yustisia, Tri Dharma III, dan Nusantara, serta ditutup dengan Inaugurasi di Taman Sansiro pada sore hari.

Berdasarkan konsolidasi yang dilakukan, telah disepakati sejumlah tuntutan aksi yang disuarakan pada hari terakhir PIONIR Society 2026 ini, yaitu:

Isu Pertama: Epistemisida sebagai Dampak Komersialisasi Pendidikan

  1. Menolak epistemisida atau pembunuhan intelektualitas dengan menuntut reformasi serta transparansi anggaran pendidikan. 
  2. Menolak komersialisasi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum atau PTNBH dan penurunan kuota beasiswa bagi rumpun sosial. 

Isu Kedua: “Pendidikan dalam Belenggu Eksploitasi dan Upah Rendah”

  1. Mendesak peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik meliputi penyelesaian status guru honorer secara adil dan transparan. 
  2. Menuntut evaluasi terhadap beban kerja guru dan dosen yang eksploitatif.  

Isu Ketiga: “Kesenjangan Akses Pendidikan yang Tak Kunjung Usai”

  1. Menuntut pemerataan akses pendidikan berkualitas dan berpihak hingga wilayah 3T dan kelompok rentan.  
  2. Menuntut restorasi sekolah rusak serta perbaikan dan pemenuhan fasilitas pendidikan yang layak di seluruh Indonesia. 

Dilaksanakannya aksi yang sudah menjadi tradisi turun-temurun dalam kegiatan pengenalan lingkungan bagi mahasiswa baru FISIPOL UGM ini menjadi salah satu wujud komitmen fakultas mendukung mahasiswa sebagai intelektual muda yang memiliki kepedulian sosial tinggi dan siap mengawal demokrasi serta menegakkan keadilan di negeri ini.