[RILIS] FISIPOL UGM Sambut Kepulangan Kembali Relawan FISIPOL Mengajar

Yogyakarta, 10 Februari 2026─Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyambut kepulangan 11 Relawan FISIPOL Mengajar yang telah menyelesaikan misi pengabdian selama hampir satu bulan, sejak 10 Januari hingga 8 Februari 2026, di Kabupaten Aceh Tengah.

Para relawan diterjunkan di tiga wilayah terdampak bencana, yakni Pantan Nangka, Ketol, serta Takengon (Desa Bintang dan Desa Toweren). Program ini merupakan inisiatif dari FISIPOL UGM dalam mendukung proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, khususnya pada sektor pendidikan. Program ini secara khusus bekerja sama dengan Yayasan Sukma.

Dekan FISIPOL UGM, Dr. Wawan Mas’udi, menyampaikan apresiasi atas dedikasi para relawan yang telah berkontribusi dan menjalankan pengabdian dengan baik hingga akhir. Menurut Wawan, pengalaman lapangan para relawan tidak berhenti sebagai kegiatan pengabdian semata, melainkan dapat menjadi landasan pengembangan riset sosial, kerja-kerja advokasi kebijakan, hingga model rehabilitasi pendidikan pascabencana yang lebih komprehensif.

“Inisiatif yang kita persiapkan dalam waktu yang sangat singkat ini mendapat respons luar biasa. Antusiasme dari teman-teman mahasiswa juga sangat tinggi. Dan dari pengalaman Anda semua di sana, saya menduga ada banyak hal yang sudah Anda catat dan renungkan. Mungkin, ke depannya bisa ditindaklanjuti dalam berbagai bentuk karena Fakultas berharap betul ada keberlanjutan. Mungkin contohnya bisa dalam bentuk riset sosial terkait pemulihan pascabencana,” paparnya dalam sambutan.

Dalam forum penyambutan, para relawan turut membagikan pengalaman dan refleksi selama mendampingi masyarakat. Mereka menyoroti masih minimnya kemampuan literasi dan numerasi anak-anak di lokasi terdampak. Karena itu, penguatan baca, tulis, dan berhitung menjadi fokus utama pengajaran, selain kegiatan mengaji dan permainan edukatif untuk membantu pemulihan psikososial anak. Namun demikian, para relawan mengakui bahwa pendidikan belum menjadi prioritas utama masyarakat di tengah keterbatasan kebutuhan dasar.

“Masyarakat masih lebih membutuhkan bantuan seperti sembako, air bersih, dan rekonstruksi infrastruktur. Pendidikan belum menjadi prioritas,” ujar Adit, relawan yang diterjunkan di Pantan Nangka.

Di wilayah Ketol, tantangan kian terasa dengan menyusutnya bantuan logistik. Efendi, salah satu relawan di wilayah Ketol, mengungkapkan keterbatasan barang donasi serta menipisnya stok makanan masyarakat setelah dapur umum ditutup.

“Selain barang donasi yang jumlahnya sangat terbatas, stok makan masyarakat juga semakin menipis. Dapur umum ditutup karena bantuan sembako hampir tidak ada lagi,” jelasnya.

Sementara itu, Sufaat menambahkan bahwa distribusi bantuan dinilai belum sepenuhnya memprioritaskan area yang paling terdampak. Di Ketol, persoalan ketersediaan air bersih, perlengkapan sekolah, hingga kondisi psikososial anak-anak masih menjadi perhatian serius.

Menanggapi berbagai temuan tersebut, FISIPOL UGM menegaskan komitmennya untuk mendorong respons yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Wakil Dekan Bidang Akademik, Prof. Poppy S. Winanti, mendorong penyusunan modul pengabdian pendidikan pascabencana sebagai output konkret yang nantinya dapat direplikasi untuk situasi serupa di masa mendatang.

Menutup forum, Dr. Wawan Mas’udi berharap program FISIPOL Mengajar dapat menjadi titik awal konsolidasi upaya yang lebih luas untuk melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi, yang tentunya perlu melibatkan lebih banyak pihak dalam menangani persoalan-persoalan prioritas pascabencana di wilayah terdampak.