Yogyakarta, 3 September 2026—Korps Mahasiswa Politik dan Pemerintahan (KOMAP) UGM bersama Serikat Mahasiswa UGM menggelar forum diskusi publik bertajuk Madilog Roundtable untuk membedah arah kebijakan investasi pendidikan nasional.
Di tengah penetapan anggaran pendidikan sebesar Rp769,1 triliun dalam APBN 2026 forum ini menyoroti kegagalan sistemik dibalik angka tersebut. Besarnya angka investasi tidak pernah sejalan dengan perbaikan kualitas pembelajaran maupun kesejahteraan tenaga pendidik, sehingga memunculkan pertanyaan mendasar tentang ke mana sebenarnya uang negara dialokasikan.
Jimmy Wesly Sihombing, selaku Presiden KOMAP UGM, menekankan pentingnya isu pendidikan bagi civitas akademika serta pentingnya dialog untuk membahas isu ini secara komprehensif. “Kegiatan ini dibuat karena keresahan teman-teman bersama tentang arah pendidikan kita yang tidak tahu dibawa kemana oleh rezim sekarang. Dan kita buat diskusi ini untuk memperdalam kemana arah pendidikan kita,” ujarnya.
Forum ini menghadirkan deretan pembicara lintas sektor, mulai dari akademisi, aktivis, hingga jajaran Menteri Kabinet Bayangan. Dalam dialog yang berlangsung tersebut, para pembicara memaparkan temuan bahwa sekitar Rp223,6 triliun tersedot untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sementara di sisi lain, guru non-ASN di berbagai daerah masih bergaji Rp300.000 per bulan dan 42,9 persen dosen hidup dengan pendapatan tetap di bawah Rp3 juta. Perubahan kurikulum yang silih berganti dan pembentukan program-program baru seperti 100 Sekolah Garuda dan 10 Universitas Republik Indonesia tidak akan berarti apa-apa jika arah pembangunan pendidikan tidak dikembalikan pada akar persoalan, yaitu pemerataan akses, peningkatan mutu pengajar, dan keterjangkauan biaya bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu.
Forum Madilog Roundtable yang digagas KOMAP dan SEMA UGM ini secara langsung menyentuh inti dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, yaitu menjamin kualitas pendidikan yang inklusif dan merata serta meningkatkan kesempatan belajar sepanjang hayat untuk semua. Dengan mengangkat isu ketimpangan akses akibat biaya pendidikan yang melambung serta masih rendahnya kualitas pembelajaran, forum ini menjadi ruang kritis bagi mahasiswa untuk memastikan bahwa komitmen terhadap SDGs tidak hanya berhenti pada angka, melainkan benar-benar diwujudkan dalam kebijakan yang berpihak pada guru, siswa, dan mahasiswa dari semua lapisan masyarakat. Pada akhirnya, diskusi yang diprakarsai oleh KOMAP dan SEMA UGM ini adalah bentuk partisipasi nyata generasi muda dalam mengawal pencapaian SDGs dan cita-cita pendidikan berkualitas untuk semua pada 2030.