Berita
Minggu, 22 Juli 2018
“Berbisnis sosial itu berat, bukan hanya karena harus berbisnis dengan memberikan impact, namun juga pengorbanan dan tenaga yang besar. Namun dengan passion, itu semua akan menjadi lebih mudah,” ungkap Gamal Albinsaid, pendiri “Klinik Asuransi Sampa” sebagai salah satu pembicara yang mengisi Studium Generale (Kuliah umum) yang diselenggarakan oleh Akademi Kewirausahaan Masyarakat (AKM) Fisipol UGM, pada (22/7). Gamal Albinsaid, menjadi pemateri bersama dengan dua pembicara lainya yaitu Tri Mumpuni (Pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan), Maria Loretha (Penggagas Pengembangan Pertanian Sorgum di Flores). Acara yang bertajuk “Mengatasi Masalah Sosial melalui Sociopreneurship” ini bertempat di Auditorium Mandiri Gedung BB Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada dan diikuti oleh lebih dari 200 peserta dari peserta Akademi Kewirausahaan Masyarakat (AKM) dan masyarakat umum.
Dimulai dari sesi Tri Mumpuni, Ia menekankan pentingnya manajemen hati untuk menemukan passion berwirausaha sosial. “Hati itu tidak dapat didapatkan di formal education. Namun harus dilatih, berwirausaha sosial apalagi di desa harus pintar-pintar menguatkan hati,” ungkap Tri Mumpuni. Ia juga menekankan pentingnya dukungan stakeholders dari berbagai level dan sektor terhadap wirausaha sosial yang dinisiasikan. “Dalam memulai wirausaha sosial dimulai dari level komunitas desa yang paling dasar itu perlu menghilangkan ‘kesombongan’, bergaul dengan desa, kenali living concept. Tarik dan analisis rantai para stakeholders yang dapat membantu, karena dukungan para stakeholder juga penting,” tambah Tri. read more