“Riset juga menunjukkan, 74% dari perempuan yang terpapar hoaks memilih untuk tidak menanggapi pesan meragukan yang diterima karena menghindari konflik. Padahal, kami melihat perempuan justru berkesempatan membawa perubahan dalam komunitasnya asalkan
terbekali dengan pelatihan literasi digital yang tepat. Inilah mengapa kami berkolaborasi dengan WhatsApp untuk menyelenggarakan rangkaian program pelatihan ini,” kata Novi Kurnia, Ketua Program Magister Ilmu Komunikasi UGM.
Salah satu peserta pelatihan yang telah mendaftarkan dirinya adalah Andi Sri Wulandani, perempuan berumur 38 tahun dari Makassar. Andi pernah bekerja di Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Soppeng dan kini mengepalai sebuah institusi penelitian di Makassar. “Setiap orang, termasuk saya sendiri, menggunakan WhatsApp sebagai sarana komunikasi utama untuk terhubung dengan teman, keluarga, dan rekan kerja,” kata Andi. “Tanpa pengetahuan dan kesadaran yang cukup, mudah bagi kita untuk terperangkap dalam informasi yang belum pasti kebenarannya. Oleh sebab itu, saya tidak sabar untuk mengikuti pelatihan ini dan berharap ilmu yang saya dapatkan bisa saya bagikan ke komunitas saya. Saya yakin kita bisa bersama-sama melawan hoaks dengan upaya kolaboratif.”