Yogyakarta, 5 Juni 2026—Di tengah laju dinamis kehidupan akademik dan tuntutan profesionalisme yang semakin tinggi, isu kesehatan mental kerap kali masih menjadi hal yang dikesampingkan. Merespons urgensi tersebut, Festival Ajisaka 2026 Departemen Ilmu Komunikasi FISIPOL UGM kembali hadir menyuguhkan ruang diskusi yang reflektif. Rangkaian talkshow inspiratif ini digelar pada Jumat (05/06).
Talkshow terdiri dari dua sesi acara. Sesi pertama talkshow berlangsung di Auditorium Lt. 4 FISIPOL UGM ini membahas realita yang akrab dialami oleh generasi muda masa kini, yakni krisis kelelahan mental atau burnout. Mengusung tajuk “When ‘Doing Your Best’ Feels Never Enough: How We Talk About Burnout Matters”, diskusi ini dipandu oleh Kafka Vadanta selaku moderator dan menggandeng Psikolog Klinis, Gayatri Hutami Putri. Pada bagian ini fenomena kelelahan mental dibedah melalui kacamata profesional yang komprehensif.
“Burnout tanda kamu memiliki limitasi, jadi tidak apa-apa dengan itu. Ketika mengalami burnout, refleksikan kembali beban yang ada. Bekerjalah secara cerdas supaya waktu juga tidak banyak terbuang.” ungkap Gayatri.
Diskusi ini menekankan bahwa mengenali batasan diri dan memvalidasi rasa lelah bukanlah sebuah tanda kelemahan, melainkan langkah krusial dalam manajemen emosi untuk bertahan di lingkungan yang serba kompetitif.

Beranjak pada sesi kedua yang dibuka secara inklusif untuk publik di Taman Sansiro FISIPOL UGM. Wacana diperluas dengan menyoroti peran komunikasi dan medium seni sebagai ruang ekspresi alternatif yang membebaskan. Mengangkat tema “Membedah Jiwa, Meramu Bahasa, Menemukan Rupa”, panggung diskusi diisi oleh Dosen Ilmu Komunikasi yang sekaligus menjadi bagian dari Career Development Center (CDC) FISIPOL UGM, Acniah Damayanti S.I.P., M.Sc., bersama seniman asal Yogyakarta, Setia Utami.
Kehadiran lintas profesi ini menyuguhkan kolaborasi perspektif yang kaya, audiens diajak memahami bagaimana karya seni dapat menjadi saluran katarsis ketika bahasa lisan tak lagi mampu mewakili atau menampung kompleksitas emosi manusia.
Benang merah dari kedua sesi ini adalah upaya dekonstruksi terhadap stigma seputar konseling dan kesehatan mental yang masih kerap dipandang sebelah mata di masyarakat. Narasi yang dibangun dengan tegas menyatakan bahwa validasi emosi adalah fondasi awal yang esensial bagi generasi muda.
Hal ini dipertegas oleh pernyataan Acniah terkait penyediaan ruang aman bagi mahasiswa.
“Kami (CDC) berusaha untuk menghilangkan stigma bahwa konseling ke psikolog itu sudah pasti negatif, karena terkadang orang hanya perlu untuk didengar.” ungkap Acniah di hadapan para peserta.
Melalui penyelenggaraan rangkaian diskusi di Festival Ajisaka 2026 ini, mahasiswa dan seluruh peserta yang hadir diharapkan tidak hanya mendapatkan wawasan baru, tetapi juga mampu menemukan cara-cara yang lebih sehat dan aplikatif dalam memahami serta mengelola gejolak emosi mereka sehari-hari.