Yogyakarta, 7 Mei 2026─Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UGM menunjukkan kontribusinya dalam penguatan kapasitas masyarakat menghadapi risiko bencana melalui partisipasi pada Pameran Kebencanaan Nasional yang menjadi bagian dari rangkaian Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Kebencanaan ke-9. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) pada 6–7 Mei 2026 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tersebut menjadi ruang kolaborasi bagi akademisi, praktisi, pemerintah, dan masyarakat untuk memperlihatkan inovasi, praktik baik, serta kontribusi nyata dalam pengurangan risiko bencana di Indonesia.
Dalam partisipasinya di booth Universitas Gadjah Mada (UGM), FISIPOL UGM menghadirkan kontribusi berbasis pendidikan dan pemberdayaan masyarakat melalui program Relawan Pendidikan Bencana Aceh. Kehadiran program ini menunjukkan bahwa penguatan ketangguhan masyarakat terhadap bencana tidak hanya bertumpu pada aspek teknis dan respons darurat, tetapi juga memerlukan pendekatan sosial, pendidikan, dan penguatan kapasitas komunitas secara berkelanjutan.
Program Relawan Pendidikan Bencana Aceh merupakan salah satu bentuk pengabdian masyarakat FISIPOL UGM yang berfokus pada edukasi kebencanaan dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat di wilayah terdampak bencana. Melalui pendekatan pendidikan yang partisipatif, program ini mendorong masyarakat untuk memahami risiko bencana di lingkungan sekitar, memperkuat literasi kebencanaan, serta membangun kemampuan dasar dalam menghadapi situasi darurat. Keterlibatan relawan dalam program ini menjadi medium penting untuk memperkuat kesadaran kolektif masyarakat mengenai pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan sejak dini.
Di booth UGM, FISIPOL menampilkan berbagai informasi mengenai implementasi program tersebut melalui materi visual, dokumentasi lapangan, dan narasi praktik penguatan masyarakat berbasis pendidikan. Harapannya, dari informasi yang disajikan, pengunjung dapat memahami bagaimana pendidikan kebencanaan diterapkan di tingkat komunitas, termasuk strategi membangun partisipasi warga dalam mengenali risiko, menyusun langkah kesiapsiagaan, hingga memperkuat ketahanan sosial masyarakat terdampak.
Kontribusi FISIPOL UGM ini hadir sebagai bagian dari pendekatan multidisipliner UGM dalam isu kebencanaan. Selain FISIPOL, berbagai unit dan fakultas lain turut menampilkan inovasi dan praktik kebencanaan, antara lain Disaster Response Unit UGM (DERU), UGM Emergency Response Unit (UGM-ERU), Fakultas Geografi, Fakultas Teknik, Fakultas Psikologi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK), serta Fakultas Kehutanan. Keterlibatan lintas disiplin ini mencerminkan komitmen UGM dalam menghadirkan solusi kebencanaan yang komprehensif, mulai dari mitigasi, respons cepat, hingga pemulihan pascabencana berbasis ilmu pengetahuan dan pengabdian masyarakat.
Antusiasme pengunjung terlihat tinggi sepanjang pelaksanaan pameran. Berbagai peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, praktisi kebencanaan, hingga masyarakat umum aktif berdiskusi mengenai model penguatan kapasitas masyarakat, pengalaman lapangan, serta pendekatan edukasi kebencanaan yang dilakukan UGM. Informasi mengenai Relawan Pendidikan Bencana Aceh menjadi salah satu bentuk kontribusi yang memperlihatkan pentingnya investasi pada pendidikan dan penguatan kapasitas sosial masyarakat dalam upaya pengurangan risiko bencana.
Keikutsertaan FISIPOL UGM dalam PIT IABI ke-9 sekaligus menegaskan posisi ilmu sosial dan politik sebagai bagian penting dalam tata kelola kebencanaan. Melalui penguatan pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan kolaborasi lintas sektor, FISIPOL UGM terus berupaya berkontribusi dalam membangun masyarakat yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi berbagai risiko bencana di masa depan.
Agenda ini sejalan dengan komitmen Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4: Quality Education (Pendidikan Berkualitas) melalui edukasi kebencanaan dan penguatan literasi risiko bencana berbasis komunitas, SDG 11: Sustainable Cities and Communities (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) dengan mendorong masyarakat yang lebih tangguh dan siap menghadapi risiko bencana, SDG 13: Climate Action (Penanganan Perubahan Iklim) melalui penguatan kapasitas adaptasi dan mitigasi terhadap berbagai risiko kebencanaan, dan SDG 17: Partnerships for the Goals (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, praktisi kebencanaan, dan masyarakat dalam pengembangan pengetahuan dan praktik kebencanaan berkelanjutan.