Yogyakarta — Istilah self-reward semakin lekat dengan kehidupan Generasi Z. Setelahmenyelesaikan tugas, menghadapi hari yang melelahkan, atau mencapai suatu pencapaian, membeli makanan favorit, pakaian, skincare, hingga barang yang telah lama diinginkan kerap dianggap sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.
Namun, di tengah kemudahan berbelanja melalui platform digital, praktik self-reward juga dapat menjadi pintu masuk pada perilaku konsumtif dan pembelian impulsif. Lantas, apakah self-reward benar-benar menjadi bentuk apresiasi diri, atau justru mendorong pola konsumsi yang berisiko bagi kondisi finansial anak muda?
Pertanyaan tersebut menjadi perhatian tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) di bidang Riset Sosial Humaniora (RSH). Tim yang diketuai oleh Rodiyyah Nurul Adawiyyah, beranggotakan Anggita Rasya Ananta, Ardhia Revalina Asyifa, Kadja Elyoenai Kale Lado, dan Zahrotuz Zakiyah yang dibimbing oleh Ibu Mashita Phitaloka Fandia Purwaningtyas, S.I.P., M.A melalui penelitian yang berjudul “Antara Literasi Keuangan dan Pembelian Impulsif: Studi terhadap Fenomena Self-Reward di Kalangan Generasi Z melalui Konsep Intertemporal Choice.”
Self-Reward dan Kebiasaan Konsumsi Gen Z
Bagi Generasi Z, self-reward tidak lagi sekadar menjadi cara personal untuk mengapresiasi diri setelah menyelesaikan pekerjaan atau melewati hari yang melelahkan. Praktik ini telah berkembang menjadi fenomena yang hadir dalam keseharian anak muda dan semakin mudah ditemukan dalam percakapan maupun budaya konsumsi di ruang digital. Ungkapan seperti “I deserve this” atau “aku pantas mendapatkannya setelah semua yang aku lewati” menjadi pembenaran yang kerap digunakan untuk memberikan hadiah kepada diri sendiri.
Bentuknya pun beragam, mulai dari membeli makanan dan minuman, berbelanja pakaian, membeli produk perawatan diri, hingga melakukan transaksi yang sebelumnya tidak direncanakan. Berdasarkan hasil penelitian Tim PKM-RSH UGM Self-Reward terhadap 384 responden Generasi Z, 42% orang memilih pembelian makanan atau indulgence sebagai bentuk self-reward, 33,5% orang memilih pembelian barang atau tangible, dan 24,5% orang memilih intangible.
Kemunculan berbagai platform digital turut membuat aktivitas tersebut semakin mudah dilakukan. Keinginan yang muncul dapat langsung diterjemahkan menjadi transaksi hanya melalui beberapa kali sentuhan pada layar.
“Generasi Z masif terpapar media sosial, sehingga ketika dihadapkan pada situasi untuk menentukan keputusan berpotensi melenceng dari pemahaman keuangan yang diperoleh dengan perilakunya. Saat ini, informasi sangat mudah didapat, misalnya di Threads ataupun di X. Mencari informasi tentang saham pun mudah, tapi banyak yang menerima ‘sinyal’ tanpa melakukan cross-check dan langsung beli. Makanya banyak yang rugi. Akses yang sangat mudah membuat orang cenderung impulsif karena dia tidak mengeluarkan langsung duitnya. Karena dia tidak merasakan uangnya langsung keluar. Ketika diharapkan untuk membayar dia bingung. Itulah pentingnya kontrol diri dalam pengambilan keputusan.” poin edukasi dari Otoritas Jasa Keuangan Yogyakarta pada sesi in-depth interview.
Libatkan Survei terhadap Gen Z
Penelitian ini melibatkan 384 responden Gen Z dengan menggunakan pendekatan mixed method atau metode campuran. Tidak hanya melihat hubungan antara literasi keuangan dan perilaku konsumsi, tetapi juga memasukkan intertemporal choice sebagai variabel yang diperhitungkan dalam hubungan tersebut.
Secara sederhana, intertemporal choice berkaitan dengan bagaimana seseorang mempertimbangkan pilihan antara memperoleh kepuasan saat ini dan mendapatkan manfaat yang lebih besar di masa mendatang. Misalnya, ketika memiliki sejumlah uang, seseorang dihadapkan pada pilihan untuk menggunakannya membeli barang yang diinginkan hari ini atau menyimpannya untuk kebutuhan yang akan datang.
Pilihan tersebut dapat menjadi semakin kompleks ketika keputusan konsumsi juga berkaitan dengan kondisi emosional.
Lebih dari Literasi Keuangan
Temuan yang dihasilkan menunjukkan bahwa pemahaman mengenai keuangan tidak serta-merta membuat seseorang mampu menghindari perilaku konsumsi impulsif.
Seseorang dapat memahami pentingnya membuat anggaran, menabung, maupun membedakan kebutuhan dan keinginan. Namun, ketika berhadapan dengan keinginan untuk memperoleh kepuasan pada saat ini, pengetahuan tersebut masih dapat berhadapan dengan pertimbangan lain.
Dengan kata lain, persoalan self-reward tidak hanya berkaitan dengan seberapa banyak seseorang paham soal iterasi keuangan, tetapi juga bagaimana ia mengambil keputusan antara kepuasan saat ini dan kebutuhan di masa mendatang.
Self-Reward dan Kebutuhan Emosional
Penelitian tim juga menggali pengalaman responden secara lebih mendalam melalui pendekatan kualitatif. Hasilnya menunjukkan bahwa praktik self-reward tidak hanya berkaitan dengan persoalan keuangan, tetapi juga dengan bagaimana seseorang mengelola dan memenuhi kebutuhan emosionalnya.
Dalam kondisi tertentu, membeli sesuatu dapat menjadi cara untuk memperoleh rasa senang, lega, atau penghargaan setelah melewati hari yang melelahkan, tekanan pekerjaan, maupun pencapaian tertentu. Kebutuhan emosional semakin sering diterjemahkan ke dalam aktivitas konsumsi ketika rasa lelah dapat “dibayar” dengan makanan favorit, pencapaian dirayakan dengan barang baru, sementara stres atau kejenuhan dapat direspons dengan berbelanja. Emosi yang semula bersifat personal kemudian terkomodifikasi dan dapat dipertukarkan dengan barang atau layanan yang dapat dibeli.
Apakah Self-Reward Selalu Buruk?
Memberikan penghargaan kepada diri sendiri dapat menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan emosional. Persoalan muncul ketika self-reward dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi finansial dan kebutuhan di masa mendatang.
Karena itu, pentingnya membedakan antara self-reward yang bersifat adaptif dan self-reward yang berpotensi mendorong perilaku konsumtif.
Penghargaan terhadap diri sendiri tidak selalu harus diwujudkan melalui konsumsi. Beristirahat, melakukan hobi, menghabiskan waktu bersama orang terdekat, atau melakukan aktivitas yang memberikan kepuasan emosional juga dapat menjadi bentuk self-reward.
Melalui penelitian ini, diharapkan pembahasan mengenai self-reward di kalangan Gen Z tidak berhenti pada level individu. Lebih dari itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk memahami bagaimana kebutuhan emosional, lingkungan sosial, media digital, turut membentuk cara self-reward dipahami dan dipraktikkan. Oleh karena itu, kesadaran finansial bukanlah bentuk pengekangan, melainkan wujud kepedulian pada kesejahteraan diri di masa depan. Menyayangi diri sendiri juga termasuk bertanggung jawab atas keputusan finansial kita. Mari bersama-sama #HargaiDirimuBijakBelanjamu, dimulai dari kesadaran diri kita sendiri karena cinta pada diri sendiri adalah tentang memberi rasa aman, bukan sekadar kepuasan sesaat.
Penulis: Tim PKM-RSH UGM Self-Reward