Yogyakarta, 20 Juli 2026—Pusat perhatian dalam gelaran Australia–Indonesia in Conversation (AIC) 2026 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UGM bergeser dari ranah politik pengetahuan menuju persoalan eksistensial manusia, yakni bagaimana imajinasi dan estetika bertahan di tengah gempuran kecerdasan buatan (AI). Sesi panel kedua yang berlangsung pada Senin siang di Ruang Sidang Dekanat ini mengusung tajuk “Sustaining Imagination: Eco-Aesthetics, Creativity, and the Ethics of Intelligent Futures”.
Berbeda dengan sesi sebelumnya yang membahas tata kelola kekuasaan, panel ini mengangkat sudut pandang kreativitas manusia, etika, dan keberlanjutan ekologi. Dekan FISIPOL UGM, Wawan Mas’udi, dalam sambutannya menekankan pentingnya pembahasan pengaruh AI dalam imajinasi manusia yang beretika dan sadar secara ekologis. “Panel ini mengajak kita untuk merenungkan bagaimana inovasi teknologi dapat mendukung, bukan menggantikan, imajinasi manusia, sambil tetap berpegang pada tanggung jawab etis dan kesadaran ekologis,” ujarnya.
Diskusi ini menghadirkan pakar dari University of Melbourne, Assoc. Prof. Edwin Jurriens, yang dikenal atas risetnya di bidang seni media, estetika ekologi, serta adaptasi budaya di tengah perubahan iklim dan digital.
Dalam paparannya, Jurriens mengingatkan bahwa jika AItidak dikelola dengan kesadaran ekologis dan etis, teknologi digital justru berpotensi menjadi instrumen baru yang memperkuat ketimpangan, alih-alih menjadi ruang bagi imajinasi kolektif yang berkeadilan. “Penguasaan atas keanekaragaman hayati dan pengetahuan merupakan langkah terakhir dalam serangkaian proses penguasaan yang dimulai sejak munculnya kolonialisme. Tanah dan hutan adalah sumber daya pertama yang dikuasai dan diubah dari milik bersama menjadi komoditas. Selanjutnya, sumber daya air dikuasai melalui pembangunan bendungan, eksploitasi air tanah, dan skema privatisasi. Kini giliran keanekaragaman hayati dan pengetahuan yang dikuasai melalui hak kekayaan intelektual,” tegasnya.
Acara yang terselenggara atas kolaborasi FISIPOL UGM dan University of Melbourne ini diharapkan mampu mendorong komitmen etis bersama, khususnya dalam membangun masa depan digital yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkeadilan dan berkelanjutan. Media kit serta dokumentasi lengkap acara dapat diakses melalui laman resmi yang telah disediakan panitia.