Melihat Lebih Dekat Realitas Kondisi Aceh dan IKN Melalui Pameran Karya Dokumentasi Pengabdian Mahasiswa FISIPOL UGM

Yogyakarta, 24 April 2026─Selasar Barat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UGM disulap menjadi ruang refleksi yang sarat akan makna sejak Jumat (24/4). Pameran ini menyuguhkan rekam jejak dua pengabdian yakni FISIPOL Mengajar dan Bala Gadjah Mada Setrajana.

Meski berada lokasi geografis yang membentang jauh, kedua program ini diikat oleh dedikasi yang sama terhadap isu fundamental yaitu: pendidikan dan kelestarian ekologi. Pameran ini tidak sekadar merayakan selesainya sebuah program kerja, melainkan menjadi medium untuk menyuarakan realitas riil di lapangan yang kerap kali luput dari pemberitaan media.

Melalui karya visual yang dipajang, pengunjung diajak menyusuri dinamika masyarakat Aceh pascabencana. Foto-foto tersebut merekam sebuah kenyataan pahit bahwa sejak fase awal krisis, masa pengabdian para relawan, hingga pameran ini digelar, kondisi masyarakat di sana belumlah pulih seutuhnya. Tantangan berat dalam membangun kembali akses dan kelayakan belajar bagi anak-anak penyintas terekam dengan sangat jujur dalam setiap bingkai, mengingatkan publik bahwa mereka masih membutuhkan uluran tangan yang berkelanjutan.

Sementara itu, di sudut pameran yang lain, lensa berpindah menyorot wilayah Penajam Paser Utara yang bersinggungan langsung dengan proyek IKN. Dokumentasi dari tim Bala Gadjah Mada Setrajana menyingkap bahwa di balik masifnya pembangunan, terdapat isu darurat penanggulangan sampah yang membutuhkan intervensi segera. Menghadapi kondisi tersebut, mahasiswa tidak hanya merekam masalah, tetapi juga menginisiasi solusi lewat pembentukan kelompok Bank Sampah Berdaya sebuah langkah taktis untuk merajut kesadaran lingkungan yang berdampak ekonomis bagi warga setempat.

Secara keseluruhan, pameran ini menunjukkan sivitas akademika FISIPOL UGM mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang dimiliki dengan turun langsung memeluk ketimpangan di masyarakat. Dedikasi untuk terus hadir di daerah terdampak bencana serta inisiatif pelestarian lingkungan di wilayah transisi adalah wujud nyata napas institusi. Langkah ini diharapkan menjadi pendorong kolektif untuk terus menjamin akses pendidikan yang bermutu secara merata, membangun kawasan permukiman yang tangguh bagi warganya, serta mengawal aksi nyata dalam menjaga keberlanjutan iklim dan lingkungan.