Stasiun Nol Festival 2026: Menjembatani Realitas Fisik Gua dengan Revolusi Data Spasial di FISIPOL UGM

Yogyakarta, 30 Juli 2026 —Stasiun Nol Festival Kartografika Londa 2026 resmi digelar di Ruang Seminar Timur FISIPOL UGM pada 29–30 Juli mendatang. Mengusung tema besar “Labirin Peta”, festival ini hadir bukan sekadar ajang membaca arah, melainkan menjadi titik pijak (stasiun nol) bagi upaya sistematis dalam mengeksplorasi ruang dan menerjemahkan data bentang alam karst Nusantara ke dalam bahasa kartografi modern.

Festival ini dirancang sebagai wadah konsolidasi antara penjelajahan fisik dan pengolahan data digital, dengan menyoroti kawasan karst Gunung Sewu dan Sulawesi sebagai laboratorium alam utama. Pada hari pertama, Seminar Nasional “Speleo-arkeologi Karst” akan membedah tautan antara keunikan geologi, pola kebudayaan purba, dan eksplorasi bawah laut. Para ahli yang tergabung, mulai dari cave diver Robin Cuesta, arkeolog Prof. Sari Bahagiarti, hingga surveyor lingkungan Juswono Budi Setiawan, dihadirkan untuk mengupas bagaimana struktur fisik gua menyimpan data sejarah dan ekosistem yang hingga kini terus diinterpretasikan.

Namun, inti dari eksplorasi ruang dan data tersebut baru mencapai puncaknya pada hari kedua melalui Workshop Pemetaan Gua. Di sinilah proses transformasi data terjadi: peserta akan diajak menyelami teknik mengubah jepretan lapangan menjadi model tiga dimensi yang presisi melalui Fotogrametri, serta menerjemahkan angka ukur di kedalaman gua menjadi sketsa digital berstandar tinggi menggunakan perangkat lunak Survex Mapping Grade 5.

Dengan menghadirkan praktisi seperti Ridwan Nasrullah (Club Caving Tasikmalaya) dan Ridlo Ilahi (Acintyacunyata Speleological Club), workshop ini menegaskan bahwa pemetaaan gua kini telah bertransformasi dari sekadar sketsa manual ke ranah cloud point dan pemodelan spasial yang akurat.

Seluruh rangkaian acara, termasuk sesi Kritik Peta dan konsolidasi isu lingkungan, menegaskan misi festival ini: menjadikan data spasial sebagai instrumen kritis untuk membaca realitas di balik garis dan koordinat, sekaligus menjawab tantangan pelestarian kawasan karst di tengah gempuran degradasi lingkungan.